Mengapa Masyarakat Lebih Suka Nonton Film Impor?

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 04 Aug 2015 18:08 WIB
film indonesia
Mengapa Masyarakat Lebih Suka Nonton Film Impor?
Para pemeran film Surga Yang Tak Dirindukan (Foto:Antara/Teresia May)

Metrotvnews.com, Tangerang: Beberapa tahun terakhir, film produksi dalam negeri cukup banyak. Namun, animo masyarakat masih kurang. Penonton tetap lebih menyukai film impor.

"Peminat film Indonesia masih kurang. Kualitas image rendah karena kurangnya kemampuan dari sumber daya manusianya (SDM)," ujar Luky Kuswandi selaku pelaku ekonomi kreatif dari industri film Indonesia, saat menyampaikan pendapatnya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam dialog komunitas kreatif di Indonesia Convention Exhibition kawasan BSD City, Tangerang Selatan, Selasa (4/8/2015).

Luky juga menyoroti jumlah penonton yang datang ke bioskop masih sangat sedikit karena jumlah bioskop yang tidak tersebar rata ke seluruh Indonesia.

Persebaran bioskop baru terfokus di Jawa Barat (Jabar) dan DKI Jakarta. Padahal, banyak sekali produk film luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia.

"Baru 13 persen yang bisa menonton di bioskop. Hal ini karena persebarannya baru di Jabar dan DKI Jakarta. Film banyak yang masuk, tetapi bioskopnya sedikit," kritik pria yang karya filmnya pernah menembus kategori Semaine de la Critique di Cannes Film 2015.

Lucky berharap ada campur tangan pemerintah terkait regulasi yang mengatur persebaran bioskop di Indonesia agar lebih merata.

"Harus ada regulasi yang mengatur persebaran bioskop di seluruh Indonesia. Dan dalam penambahannya juga diatur kelas segmennya agar kelas menengah ke bawah bisa menonton bioskop juga. Yang pasti sesuai power daerah," tutur Lucky.

Sebagai gambaran minimnya minat penonton datang ke bioskop, film lokal yang sedang tayang saat ini hanya mampu menjaring sekitar 1 juta penonton. Film tersebut adalah Surga Yang Tak Dirindukan dan Comic 8: Casino Kings.

Yang mengejutkan adalah data yang diungkapkan Direktur Jaringan Bioskop Cinema XXI, Tri Rudi Anitio. Film Mencari Hilal hanya mampu menyedot penonton tertinggi 130 orang saja. Bahkan, pada beberapa hari pertama tayang, tidak ada satu pun penonton.

Angka tersebut sangat jauh jika dibandingkan penduduk Indonesia yang mencapai 253 juta orang (data tahun 2014).


(ROS)