Model Pencegahan Korupsi Berbasis Keluarga Belum Berhasil

Damar Iradat    •    Selasa, 04 Aug 2015 21:01 WIB
tipikor
Model Pencegahan Korupsi Berbasis Keluarga Belum Berhasil
Plt Pimpinan KPK Johan Budi--Foto: MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu model pencegahan korupsi berbasis keluarga yang diusung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diikhtiarkan bisa meredam niat pelaku berbuat curang. Namun, faktanya model ini belum berhasil.

Model yang dikeluarkan pada 2014 ini baru terlaksana di Yogyakarta. Rencananya, pada tahun ini, KPK juga akan menerapkan dua keluarga lagi di Bali.

"Pada 2014 kita mulai, namanya pencegahan berbasis keluarga. Itu di Renggan, Yogyakarta, kita capture sebagai local wisdom. Pada 2015 akan ada dua lagi, selain di Yogyakarta. Tepatnya di Bali, di sebuah desa, nanti akan menanamkan sembilan nilai antikorupsi," papar Plt Pimpinan KPK Johan Budi, di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2015).

"Misal, contohnya kenapa orang itu pintu rumahnya enggak pernah dikunci? Karena enggak pernah kena maling. Soalnya kalau nemu apa itu dibalikin. Nah, nilai-nilai itu yang kita capture," sambungnya.

Nantinya, kata Johan, keluarga-keluarga lain juga akan menjadi pilot project di tempat lain. Kendati begitu, untuk mengukur keberhasilan model tersebut tidak bisa dihitung dalam jangka waktu setahun atau dua tahun.

Model ini juga, kata Johan, dikembangkan dari pengalaman KPK. Hal ini dikarenakan pelaku korupsi merupakan simbiosis, yaitu kerja sama antara suami dan istri.

"Anak dengan bapak juga bisa. Seharusnya istri, kalau suaminya pejabat, menjaga bandul moral keluarga. Namun, apa yang terjadi, lebih dari dua tersangka KPK itu justru kerja sama antara suami-istri dan bapak-anak," tandas Johan.

Seperti diketahui, Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istri mudanya Evy Susanti menjadi pasutri teranyar yang dicokok oleh KPK. Pasangan ini menjadi pasutri ketiga yang tersandung kasus suap.

Sebelumnya, pasangan pertama adalah Wali Kota Palembang Romi Herton dan istrinya, Masyitoh diduga terlibat kasus suap penanganan sengketa pilkada Kota Palembang di Mahkamah Konstitusi. Kasus ini merupakan pengembangan terhadap tersangka Hakim MK Akil Mochtar yang lebih dulu ditangkap.

Pasangan kedua yang jadi tersangka suap hakim adalah Bupati Empat Lawang Budi Antoni Al-Jufri dan istrinya, Suzanna Budi Antoni. Keduanya diduga menyuap Akil Mochtar saat menjabat sebagai hakim MK dalam penanganan pilkada Empat Lawang 2013.


(MBM)