Mengembalikan Pariwisata di Bali Pasca Erupsi Raung

   •    Rabu, 05 Aug 2015 06:45 WIB
gunung meletus
Mengembalikan Pariwisata di Bali Pasca Erupsi Raung
Suasana Erupsi Gunung Raung (Foto: Antara/Nyoman Budhiana)

Metrotvnews.com, Denpasar: Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan respons positif keluhan para pelaku bisnis pariwisata di Bali pasca “raungan” Gunung Raung Jember yang berdampak signifikan pada penerbangan ke Denpasar. Ia menegaskan akan memantau erupsi vulkanik yang terjadi dan mencari solusi teknis atas bencana tersebut.

“Crisis Center ini sangat vital, sangat penting, karena kita betul-betul menghadapi situasi darurat dan mendesak,” ujar Menteri Pariwisata ke-14 itu.

Arief berkunjung ke Posko Crisis Center dan Kantor Unit Gawat Darurat Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Selasa 4 Agustus. Didampingi GM Angkasa Pura I Trikora dan Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Bali Yusfandri Gona, Menpar bertemu dengan pelaku-pelaku teknis tim crisis itu. 

Ada perwakilan dari Perhubungan, Imigrasi, Kesehatan Pelabuhan, BMKG, Ground Crew, Keamanan, Angkasa Pura, Crue Handling, Dinas Pariwisata Prov Bali dan tim Kemenpar.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan dedikasi kawan-kawan semua dalam tim tanggap darurat ini. Saya tahu, kalian semua stand by 24 jam penuh, tiap 60 menit melaporkan situasi erupsi gunung, arah angin, arah abu vulkanik, pembersihan runway dan landas pacu bandara, dan harus cepat membuat keputusan buka-tutup bandara. Bahkan Lebaran dan liburan pun harus tetap piket. Kami apresiasi kerja keras kawan-kawan,” ucap Arief.

Arief menilai operasi tanggap darurat "Gunung Raung" sudah berjalan baik, di mana mereka menyediakan posko di dekat pintu kedatangan, jadwal penerbangan dan up date gunung yang berada di Jawa Timur itu dengan baik. Juga terdapat petugas front liner yang memberi informasi untuk mereka yang terkena dampak cancellation.

Arief juga mengungkapkan terima kasih kepada Angkasa Pura 1 Bali yang menyiapkan kebutuhan seperti air minum kemasan, tempat, selimut, dan hiburan di dalam terminal keberangkatan. Inisiatif untuk memberikan angkutan gratis ke terminal Ubung Denpasar, pelabuhan Padang Bay ke Lombok, sampai bus yang overland ke Jogja, shuttle ke hotel gratis, itu layak diacungi dua jempol. 

“Secara umum sudah oke, melayani turis yang terdampak erupsi dengan baik,” ujar Menteri lulusan ITB Bandung, Surrey University dan Program Doktoral Unpad Padjajaran.

Arief juga memberikan saran untuk pelaku industri pariwisata terkait masalah ini. Pertama, informasi buka-tutup bandara itu harus detail, terutama saat mengumumkan pembukaan kembali bandara. 

“Buka tutup itu adalah domain perhubungan. Ada baiknya, setelah mendapat notifikasi aman dari BMKG, sebelum diumumkan ke public, dikoordinasi dengan Angkasa Pura dulu. Nah, AP 1 mengkoordinasi dengan penerbangan dulu? Mana-mana saja yang akan mendarat dan terbang lagi? Berapa lama lagi? Pesawat apa saja? Jam berapa saja? Dengan begitu, penumpang dan penjemput tidak panik dan chaos di lapangan, karena sudah bisa memperkirakan,” tutur Arief.

Informasi itu juga penting bagi pelaku bisnis untuk membuat business recovery. Tetapi menpar sudah mendengar langsung bagaimana mengembalikan omzet yang hilang oleh letusan gunung itu. 

“Saya setuju semua konsep recovery-nya, agar bisnis bisa mendapatkan rebound dari cancellation penerbangan dan orang yang terlanjur mengurungkan niat ke Bali karena force majeure itu. Mereka mau berjualan ke Timur Tengah, Eropa, dan Amerika, silakan saja,” paparnya.

Kedua, dalam memberikan laporan Crisis Center, harus lebih sistematis agar tidak multi tafsir dan memberikan kemudahan bagi pimpinan untuk cepat mengambil keputusan apapun. Misalnya, yang terkait dengan regulasi problemnya apa saja, solusi yang ditawarkan apa? Lalu yang terkait dengan penyiapan ground crew? Yang terkait dengan bisnis persoalannya apa? Solusi kreatifnya bagaimana? Soal infrastruktur masalahnya dimana? Penyelesaiannya apa saja?

Ketiga, Dinas Pariwisata Bali harus menurunkan tim langsung, dan memberi informasi kepada wisatawan yang terjebak di sana. Karena handling crisis ini sebenarnya lebih ke daerah yang bersangkutan. 

“Kami, Kemenpar itu hanya bisa berempati, turut bersedih, karena target capaian bisa terhambat oleh aktivitas vulkanik itu. BMKG dan PVMB harus bisa memprediksikan dan memberikan laporan yang riil, termasuk kapan teror raungan gunung itu berhenti? Saya kira dengan teknologi dan benchmark model gunung seperti itu di seluruh dunia bisa dicari datanya?” papar Manpar Arief Yahya.


(RIZ)