Dwi Kewarganegaraan, Masih Menjadi Isu Bagi Diaspora Indonesia

Fajar Nugraha    •    Rabu, 05 Aug 2015 15:18 WIB
diaspora indonesia
Dwi Kewarganegaraan, Masih Menjadi Isu Bagi Diaspora Indonesia
Kegiatan diaspora Indonesia di luar negeri (Foto: diasporaindonesia.org)

Metrotvnews.com, Jakarta: Diaspora Indonesia atau warga Indonesia yang sudah lama tinggal di luar Indonesia, kerap memiliki masalah kewarganegaraan. Isu ini akan dibahas dalam Kongres Diaspora Indonesia.

"Upaya merevisi UU Kewarganegaraan No 12/2006 sdh digaungkan dan sudah masuk prolegnas 2016-2019. Ini adalah salah satu upaya advokasi teman-teman dan kita harap dapat dukungan dari pembuat kebijakan termasuk law makers yang membuat legislasi," ujar Ketua Diaspora Global Indonesia Muhamad Al Arif, dalam telekonferensi dengan Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (5/8/2015).

"Ini aspirasi diaspora dari grass root masalah dwi kewarganegaraan. Dan kalo kita melihat negara-negara yang diaspora besar bukan hanya India tapi Filipina yang kontribusi diaspora nya 25 persen dari GDP punya kebijakan dwi kewarganegaraan," lanjutnya.

"Yang perlu digarisbawahi dalam dwi kewarganegaraan ini bahwa semangatnya untuk mempertahankan keindonesiaan seseorang. Agar seorang Indonesia bisa mempertahankan kewarganegaraan," ucapnya.

Menurut Al Arif, meskipun misalnya diaspora Indonesia secara otomatis di negara tempat tinggalnya harus ambil kewarganegaraan kedua. "Jadi semangatnya mempertahankan kewarganegaraan Indonesia seseorang, termasuk keturunan kami yang otomatis mendapatkan kewarganegaraan memberikan bagi orang-orang yang lahir di negara tersebut," tutur Arif.

Lebih lanjut Arif menambahkan, di undang undang Nomor 12/2006, ada konsep dwi kewarganegaraan terbatas atas seorang yang peroleh kewarganegaraan lain saat lahir, bisa memperoleh kewarganegaraan Indonesia jika mereka memegang kewarganegaraan Indonesia hingga umur 18. Sementara antara usia 18-21 tahun, individu yang bersangkutan harus menentukan apakah ingin terus menjadi WNI atau wn lain.

"Kita advokasikan agar dwi kewarganegaraan tidak diberikan batas usia. Sehingga anak-anak kami pada saatnya tidak harus dihadapkan pilihan yang sulit tersebut ingin mereka agar tetap jadi aset bagus dan tetap jadi WNI," sebut Arif.

Bagi Arif, konsepnya agar seorang itu mempertahankan ke Indonesiaannya bukan untuk meng-Indonesiakan orang asing.
 


(FJR)