Rudi Iri Kepada Deviardi

Renatha Swasty    •    Rabu, 05 Aug 2015 18:42 WIB
korupsi migas
Rudi Iri Kepada Deviardi
Rudi Rubiandini saat jadi saksi terdakwa Waryono Karno, Rabu (5/8/2015). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui Deviardi sebagai justice collabolator (JC). Mendengar hal itu, Rudi Rubiandini, yang terseret kasus yang sama dengan Deviardi cemburu. 

Dia mau mendapat surat yang sama. Hal ini dituangkan Rudi dalam surat singkat yang ia bacakan di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. Rudi sudah meminta menjadi JC, tapi tak kunjung diberikan.

"Pada Juni 2014, saya pernah diperiksa untuk Sutan Bhatoegana dan saya berbicara mengenai JC. Pada waktu itu disepakati lebih baik diperiksa saja dulu, sidang saja dulu, setelah sidang nanti kita urus JC-nya," kata Rudi yang hadir sebagai saksi dalam sidang untuk terdakwa Waryono Karno di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2015).

Permintaan itu, lanjut Rudi, ia utarakan kembali saat bersaksi buat terpidana Artha Meris Simbolon. Dan setelah ia bersaksi buat Sutan Bhatoegana di pengadilan.

"Saudara Deviardi diberi surat JC sebelum sidang Artha Meris dan setelah bersidang untuk saya," imbuh Rudi.

Tapi, usai Deviardi mendapat surat JC, Rudi justru belum dapat hingga kini. Hal itu pun katanya sudah ia sampaikan ke Jaksa Penuntut Umum pada KPK.

"Tolonglah diurus, kan saya masih ada satu sidang lagi, Pak WK. rupanya sampai saat-saat akhir belum juga diurus," cerita Rudi.

Menanggapi itu, Rudi mengaku lelah. Ia sudah tidak lagi berharap menjadi JC. Apalagi pada 29 Juli, Ketua Hakim dalam perkara Waryono, Artha Theresia meminta supaya Rudi dipanggil paksa.

Sebab, sudah tiga kali ia tidak hadir dalam pemanggilan sebagai saksi. Saat itu alasannya, karena belum mendapat surat JC.

"Saya minta diperlakukan adil saja lah. Kalau Deviardi diberikan sebelum sidang, saya pun diberikan sebelum sidang. Sampai tanggal 29 saya tunggu surat JC, tapi teman dari jaksa mengatakan, saya tunggu sampai tanggal 29 di Jakarta, kalau tidak maka saya akan mengeluarkan nota dinas yang menyatakan bahwa saudara Rudi Rubiandini tidak akan mendapat surat JC dan tidak akan pernah dapat remisi dan surat pembebasan bersyarat," ujar Rudi.

Terkait surat itu, Hakim Artha berpendapat seharusnya Rudi datang sejak awal pemanggilan dan menyampaikan keinginannya. Bukannya sudah akhir sidang baru datang. Artha hanya berharap, Jaksa bisa memberikan jawaban. 

"Ya kalau pun tidak diberikan agar diberitahu alasannya supaya tidak banyak berharap," kata Hakim Artha.

Rudi divonis bersalah menerima gratifikasi dalam kegiatan tender proyek di SKK Migas dan melakukan tindak pencucian uang. Rudi dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp200 juta. Saat ini, Rudi tengah menjalani masa pidananya di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Sementara Deviardi adalah pelatih golf Rudi yang didakwa menyerahkan uang gratifikasi dari Simon Gunawan Tanjaya, petinggi PT Kernel Oil Pte Ltd ke Rudi. 


(KRI)