'Tuh Makanya Enggak Bisa Jadi Justice Collaborator'

Renatha Swasty    •    Kamis, 06 Aug 2015 05:01 WIB
tipikor
'Tuh Makanya Enggak Bisa Jadi <i>Justice Collaborator</i>'
Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini bersaksi di Pengadilan TIpikor, Jakarta, Rabu (5/8). Foto: MI/Rommy Pujianto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Keinginan mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini untuk menjadi Justice Collaborator diperjuangkan sekuat tenaga. Tapi di mata Ketua Hakim Artha Theresia, perjuangan itu belum ada apa-apanya.

Rudi Rubiandi, tercatat sampai diperintahkan dipanggil paksa oleh Hakim Artha pada Rabu (30/7/2015) lantaran ngotot tak mau hadir dalam sidang buat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Sekretaris Jenderal ESDM Waryono Karno. Saat itu ia menolak hadir lantaran belum juga dijadikan JC sejak pertama kali diperiksa sebagai saksi buat mantan Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bhatoegana pada 2014.

"Kami memberikan panggilan untuk hari ini. Yang kami tangkap tidak hadirnya itu karena dia menuntut kalau dapat Justice Collaborator baru hadir. Kalau enggak dapet Justice Collaborator tidak mau hadir begitu yang kami tangkap," kata Jaksa Agus Prasetya menjelaskan perihal ketidakhadiran Rudi, Rabu (30/7/2015).

"Majelis akan mengeluarkan panggilan paksa untuk persidangan berikutnya kalau tidak mau angkut saja," tegas Hakim Artha.

Usai panggilan paksa itu, hari ini, Rabu (5/8/2015) Rudi akhirnya menghadiri sidang untuk diperiksa sebagai saksi. Sebelum sidang mulai, Rudi menjelaskan pada hakim Artha perihal ketidakhadirannya.

Lagi-lagi, dia menyebut kalau dia ingin dijadikan JC, tapi dalam surat yang ia sampaikan buat hakim Artha justru pelatih golfnya, Deviardi yang kemudian mendapat status itu dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Rudi mengatakan lelah dan tidak lagi memiliki harapan menjadi JC.

Dalam sidang hari ini, Hakim Artha sepertinya bisa melihat, mengapa sampai detik ini KPK tak juga menyematkan status itu pada Rudi. Sepanjang sidang, Rudi kerap menggunakan kata "mungkin", "saya kira", dan kalimat ragu lainnya.

Hakim Artha yang mendengar kesaksian Rudi pun kerap kesal, dan meminta Rudi tak menggunakan kalimat-kalimat semacam itu. Apalagi, Rudi dinilai mengetahui yang sebetulnya terjadi.

Puncaknya, saat akhir sidang. Hakim Artha penasaran, mengapa Rudi yang merupakan Kepala SKK Migas bersedia memberikan uang sejumlah USD200 ribu pada Waryono terkait rapat APBNP 2013 antara Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI.

Padahal, dalam kesaksian-kesaksiannya, Rudi mengatakan SKK Migas tak memiliki kepentingan dan hanya sebagai pelengkap dalam rapat itu. Hakim Artha lantas penasaran, mengapa Rudi sampai kukuh memberikan uang dalam jumlah besar.

Tapi, jawaban Rudi justru menunjukkan ia tak ingin jadi JC.

"Saya tidak tahu persis," kata Rudi sambil tertawa

"Tuh... makanya enggak bisa jadi Justice Collaborator. Diirit sih keterangannya. Iya kan?," kata Hakim Artha.


(DRI)

KPK Periksa Ketua Komisi II DPR

KPK Periksa Ketua Komisi II DPR

33 minutes Ago

Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap diperiksa terkait kasus korupsi KTP elektronik.
 

BERITA LAINNYA