Wantimpres Diskusikan Reshuffle

Media Indonesia    •    Kamis, 06 Aug 2015 07:46 WIB
reshuffle kabinet
Wantimpres Diskusikan Reshuffle
Presiden Jokowi menyalami Wantimpres Sidarto Danusubroto----Ant/Andika Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: Kelompok relawan Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi menyarankan Presiden Joko Widodo segera merombak kabinet bidang ekonomi karena kondisi ekonomi yang tidak sesuai harapan.

"Kami setuju kalau ada reshuffle. Hampir semua orang mengeluhkan kinerja ekonomi tidak bagus, tidak sesuai harapan, dan tidak sesuai Nawa Cita. Seknas Jokowi berkomitmen mengawal program Nawa Cita itu," kata Ketua Seknas Jokowi Muhammad Yamin di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jakarta, Rabu (5/8/2015) kemarin.

Muhammad Yamin bersama 14 pengurus organisasi itu menemui Wantimpres untuk membahas rendahnya kinerja kementerian di sektor ekonomi.

"Kami diterima oleh Ketua Wantimpres Sri Adiningsih dan anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto," katanya.

Ia menjelaskan Seknas Jokowi merupakan organisasi yang sejak awal mendukung Jokowi sehingga ingin Presiden ketujuh RI itu berhasil dalam masa pemerintahannya.

Anggota Presidium Seknas Jokowi, Hilmi Fauzi, menambahkan menteri bidang perekonomian dan BUMN saat ini belum dapat berperan sebagai agent of development dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan.

"Saya pikir saat ini menteri ekonomi belum bisa melakukan terobosan-terobosan kreatif, terutama untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan. Menteri BUMN saat ini juga belum bisa jadi lokomotif untuk menstimulus gerak pembangunan di Indonesia. Kita khawatir di bawah kepemimpinan Rini Soemarno, BUMN tidak berperan sebagai agent of development sebagaimana yang digariskan oleh Nawa Cita," cetus Hilmi.

Dalam menanggapi masukan dari Seknas Jokowi itu, anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto sepakat dengan masukan reshuffle kabinet di bidang perekonomian dan BUMN.

Menurutnya, saat ini Indonesia membutuhkan menteri yang dapat mendobrak kembali perekonomian Indonesia.

"Situasi ekonomi global saat ini mengalami pelambatan sejak 2012, bukan sekarang saja. Jadi memang dibutuhkan sosok-sosok yang mampu mendobrak kembali perekonomian Indonesia," kata Sidarto.

Ia juga berpendapat masyarakat dan pelaku ekonomi saat ini membutuhkan sosok public trust, yakni sosok yang dapat dipercaya untuk mempercepat laju perekonomian.


(TII)