Impor Sapi Indukan, Kementan Bangun Pulau Karantina di Belitung

Kesturi Haryunani    •    Kamis, 06 Aug 2015 11:46 WIB
Impor Sapi Indukan, Kementan Bangun Pulau Karantina di Belitung
Pulau Naduk di Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, yang tengah disiapkan Kementerian Pertanian menjadi pulau karantina -- MTVN/Ninok

Metrotvnews.com, Belitung: Badan Karantina Kementerian Pertanian (Kementan) berencana membangun pulau karantina untuk sapi indukan impor dari negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK). Pulau Naduk di Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, terpilih menjadi pulau karantina dari 17 pulau di 7 propinsi yang diusulkan.

"Berdasarkan kajian awal, ada tiga pula yang dipilih yaitu Pulau Naduk di Belitung, Pulau Durian Besar di Kabupaten Karimun, dan Pulau Simuan di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Dari ketiga pulau tersebut, Pulau Naduk yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk ditetapkan menjadi pulau karantina," kata Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Kementan, Sujarwanto, di Tanjung Pandan, Belitung, Rabu (5/8/2015).

Pulau karantina tersebut berfungsi untuk memastikan sapi impor yang masuk Indonesia bebas penyakit. Sehingga Indonesia bisa mengimpor sapi indukan selain dari Australia dan New Zealand.

"Pada 2014 ada revisi Undang-Undang Nomor 41 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang salah satu isinya memberikan peluang masuknya sapi indukan dari negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) ke zona yang bebas. Namun, masuknya harus melalui pulau karantina," terang Sujarwanto.

Ia menjelaskan, standar pemeriksaan setiap sapi didasarkan pada negara asal sapi impor. Jika di negara asal pemeriksaannya sudah baik, di Indonesia tidak akan dilakukan pemeriksaan terlalu ketat.

"Berbeda dengan sapi impor yang berasal dari negara bebas penyakit, sapi yang masuk ke pulau karantina harus menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan hingga yakin sapi aman. Jika ada indikasi indukan memiliki penyakit yang bisa diturunkan secara maternal, maka akan dilakukan pemeriksaan hingga anaknya," ujar Sujarwanto.

Sapi-sapi yang tidak lolos tes pemeriksaan kesehatan akan dimusnahkan. Namun, hingga saat ini belum disusun bagaimana proses pemusnahannya.

"Peraturan menteri belum ditetapkan. Dari pihak karantina, kita berusaha maksimal agar penyakit tidak masuk ke negara kita. Bahkan kita akan musnahkan satu kapal (sapi) dalam satu shipment kalau ditemukan penyakit. Itu akan kita tetapkan nanti,” kata Sujarwanto.

Saat ini, penyakit yang paling banyak ditemukan pada sapi adalah PMK. Penyakit tersebut tidak berpengaruh pada manusia, tapi memiliki dampak ekonomi pada peternak dan pada hewan lainnya seperti kambing, babi dan hewan lainnya.

"Karena itu kita lakukan pengamanan maksimum. Jika sudah dipastikan tidak ada penyakit, maka kita baru bisa bebaskan sapi dari pulau karantina ke peternak," kata Sujarwanto.
(NIN)