Butuh Konsistensi Pemerintah dalam Kebijakan Hilirisasi Tambang

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 06 Aug 2015 18:52 WIB
pertambangan
Butuh Konsistensi Pemerintah dalam Kebijakan Hilirisasi Tambang
Ilustrasi Tambang Batu Bara ANT/Yusran Uccang

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengharapkan Pemerintah Indonesia tetap konsisten dengan kebijakan hilirisasi mineral tambang demi membangun basis pertumbuhan perekonomian Indonesia berdasarkan produksi.

Marwan Batubara menegaskan konsistensi Pemerintah terhadap implementasi kebijakan hilirisasi tambang memang sangat dibutuhkan. Menurutnya, pemerintah tidak boleh terpengaruh dengan spekulasi berbagai pihak yang menginginkan adanya relaksasi ekspor di tengah perlambatan ekonomi saat ini.

"Pemerintah enggak boleh terpengaruh dengan spekulasi dari pihak-pihak lain yang menginginkan adanya relaksasi ekspor di saat kondisi perekonomian sedang lambat," ungkap Marwan saat ditemui di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Baginya, relaksasi ekspor hanya akan berdampak pada hilangnya kesempatan Indonesia dalam membenahi perekonomian secara benar. Ia pun menyarankan para pelaku usaha untuk menjauhkan kepentingan mereka yang dapat merugikan bangsa.

"Sebaiknya para pelaku usaha tidak lagi berupaya mengkerdilkan bangsa ini dengan keinginan jangka pendek dan merusak tujuan jangka panjang yang telah mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat ini secara luas," ujar Marwan.

Ia juga menambahkan saat ini pembangunan smelter sedikitnya telah menjadi angin segar untuk pemerataan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia yang selama ini sering diabaikan. 
"Sedikitnya sudah menjadi angin segar untuk bagi pemerataan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Biasanya sering terabaikan," tuturnya.

Di sisi lain, berdasarkan hasil kajian dari IRESS, Pemerintah Indonesia dalam rentang waktu 2017-2023 diproyeksikan mengalami peningkatan perolehan nilai tambah mineral dari kebijakan hilirisasi dengan mata rantau kegiatannya sekitar USD268 miliar. Perkiraan ini diantaranya diperoleh dari nilai tambah tahunan komoditas bauksit sekitar USD18 miliar, tembaga sebesar USD13,2 miliar, dan nikel USD9 miliar.



(SAW)