Menanti Kerja Nyata Pemulihan Ekonomi

   •    Jumat, 07 Aug 2015 06:09 WIB
ekonomi indonesia
Menanti Kerja Nyata Pemulihan Ekonomi

ANGKA pertumbuhan ekonomi kuartal II sukses membuat pemerintah terkaget-kaget. Laju pertumbuhan produk domestik bruto tahunan kembali melambat dari 4,71% pada kuartal I menjadi 4,67%, setelah sebelumnya diyakini akan meningkat. Presiden dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kompak menyatakan kondisi tersebut dipengaruhi faktor eksternal.

Harga komoditas pertambangan yang banyak berkontribusi pada perekonomian terus menurun di pasar ekspor. Sulit tampaknya bagi pemerintah untuk mengakui bahwa kinerja para birokrat memberikan andil yang tidak kecil dalam perlambatan ekonomi. Tengok saja lonjakan inflasi sepanjang kuartal II yang cenderung lamban tertangani.

Akibatnya, kontribusi konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional lagi-lagi menyusut. Belanja pemerintah tidak mampu mengompensasi penurunan laju pertumbuhan konsumsi masyarakat. Kinerja serapan belanja modal bahkan makin buruk jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Proyek-proyek infrastruktur pun tetap berjalan tertatih-tatih dengan tumpukan kendala seperti pada periode pemerintahan sebelumnya. Belum tampak langkah, apalagi terobosan, yang efektif untuk mengatasi. Pemerintah dengan optimistis menyatakan laju pertumbuhan ekonomi akan berbalik meningkat pada kuartal III. Kemudian di akhir tahun akan mencapai 5%-5,1% seperti yang ditargetkan.

Sah-sah saja pemerintah dibalut optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi akan meninggi. Namun, tak salah pula jika kemudian publik meragukan pemerintah akan mampu merealisasikannya. Apa yang menjadi modal pemerintah untuk mendukung kepercayaan diri yang berlebihan itu? Pembantu-pembantu Presiden yang dipasrahi mencari solusi masih itu-itu saja.

Persoalan-persoalan yang ada tidak kunjung terpecahkan. Kalaupun ada langkah kebijakan yang disebut solusi, hasilnya belum terlihat. Kendala infrastruktur hanya salah satu contohnya. Masih ada banyak persoalan lain, misalnya kurs rupiah yang terus tertekan hingga mencapai nilai yang lebih lemah daripada seharusnya.

Bahkan, melemahnya rupiah tidak terlihat manfaatnya pada kinerja ekspor. Lazimnya, nilai tukar yang melemah akan membuat produk lebih murah di pasar ekspor sehingga penjualan dapat bertambah. Kenyataannya, sumbangan ekspor pada pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun ini tetap negatif.

Sebaliknya, kontribusi impor dalam menggerus produk domestik bruto justru meningkat. Padahal, harga produk impor menjadi lebih mahal ketika rupiah melemah. Belum tampak tanda-tanda perekonomian akan membaik seperti yang terus-menerus dijanjikan. Barangkali Presiden perlu segera mengganti para pembantunya yang dinilai tidak cakap agar datang pemikiran-pemikiran segar yang menghadirkan solusi efektif.

Toh waktu sembilan bulan sudah cukup untuk mengetahui seseorang memiliki kemampuan sesuai harapan atau tidak untuk mengemban beban yang disandarkan rakyat. Dalam kurun waktu yang sama pun dapat terlihat kinerja segelintir pembantu Presiden yang cemerlang. Kita ingin tetap optimistis menatap masa depan ekonomi negeri ini. Namun, optimisme memerlukan dasar yang menyokong, yakni kerja nyata pemerintah meningkatkan belanja modal, menggenjot investasi, dan memulihkan konsumsi dengan merawat daya beli masyarakat.