Dipo Alam Sebut Frans Magnis Dangkal

- 22 Mei 2013 08:15 wib
Frans Magnis Suseno--ANTARA/Dodo Karundeng/rj
Frans Magnis Suseno--ANTARA/Dodo Karundeng/rj

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekretaris Kabinet Dipo Alam turut berkomentar terhadap kritik yang disampaikan tokoh lintas agama Frans Magnis Suseno yang menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah mengucapkan sepatah katapun untuk membela kelompok minoritas. Bahkan, menurut Dipo, Magnis berpandangan dangkal.

“Saya tidak setuju kalau Frans Magnis bilang Presiden tidak pernah ucapkan sepatah katapun untuk membela minoritas. Itu enggak benar. Saya punya buktinya, baik di sidang kabinet, maupun hasil sidang kabinet, pidatonya ada. Jadi tidak mungkin kalau dibilang Presiden tidak beri perhatian terhadap minoritas,” ujar Dipo Alam di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (21/5).

Ia pun menyayangkan Frans Magnis yang disebutnya hanya melihat persoalan Ahmadiyah, Syiah, dan gereja Yasmin yang izinnya terhambat. Menurutnya, Indonesia mempunyai 250 juta rakyat, sehingga pandangannya perlu diperluas.

“Jangan hanya melihat yang ada di TV, misal bakar-bakaran. Itu memang terjadi yang kayak begitu. Namun kita negara besar. Jadi Pak Magnis itu, maaf kata ya, dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-oleh yang hanya ada di TV,” kecam Dipo.

Ia pun menegaskan bahwa konflik Ahmadiyah itu sudah dari dulu, sejak zaman Bung karno, bahkan sejak jaman jepang.

Dan di zaman Presiden SBY, diterbitkan SKB. Menurut Dipo, seandainya SKB itu dijalankan oleh warga Ahmadiyah itu tidak akan terjadi konflik.

“Memang masalah mayoritas minoritas janganlah diperdebatkan,” ujarnya.

Dipo menegaskan dari kawasan timur hingga di barat, persoalan minoritas, pembangunan tempat ibadah semua ada. Menurutnya, di beberapa negara lain juga begitu.

“Yang penting adalah ketika Presiden mengajak para gubernur, bupati, mustinya mereka yang paling tahu, mestinya bisa mencegah, bukan melempar tanggung jawab ke daerah," imbuhnya.

Ia pun mengaku heran, seolah-olah yang memiliki komunitas lintas agama itu Magnis suseno saja.

Namun, ia tidak mempermasalahkan surat protes Magnis ke Appeal of Conciece Foundation, karena merupakan kebebasan berpendapat masing-masing warga negara. Yang jelas, lanjut Dipo, Presiden tidak pernah meminta pernghargaan tersebut.

“Apa didengar oleh pemberi penghargaan ya terserah mereka juga. Yang jelas selama ini presiden tidak pernah minta. Kita tidak ada minta-minta supaya ada penghargaan itu. Itu kan keinginan mereka (ACF),” tutur Dipo.

Pakar Etika Politik Sekolah Tinggi Filsafat Diyarkara, Romo Franz Magnis Suseno SJ, menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan negarawan dunia 2013 atau World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam suratnya Magnis menulis, penghargaan itu hanya akan membuat malu ACF.

Menurut Magnis, selama 8,5 tahun kepemimpinan Presiden Yudhoyono, kaum minoritas Indonesia justru berada dalam situasi tertekan. Presiden bahkan tidak pernah memberikan seruan sepatah kata pun kepada rakyatnya untuk menghormati hak-hak kaum minoritas. (Akhmad Mustain)

()

MESKI sudah tercapai kata islah atau damai, namun kubu Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma…