Mahathir Sebut Demokrasi Malaysia Mati di Bawah PM Najib

Fajar Nugraha    •    Selasa, 11 Aug 2015 11:15 WIB
najib razak
Mahathir Sebut Demokrasi Malaysia Mati di Bawah PM Najib
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad kembali melontarkan kritikan pedas kepada PM Najib Razak. Menurut Mahathir demokrasi Malaysia mati di bawah kepemimpinan PM Najib.

Menurut Mahathir, sebagai pemimpin Malaysia, PM Najib seharusnya diinterogasi polisi tentang dana negara yang bermasalah yang melibatkan perusahaan 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Najib sebelumnya berada di bawah tekanan akibat tuduhan pengelolaan dana yang keliru terhadap 1MDB. Di mata Mahathir, kepemimpinan Najib menyebabkan melemahnya ekonomi Malaysia.

Bulan lalu ia memecat wakilnya, Muhyiddin Yassin, menggantikan jaksa agung dan memindahkan para pejabat yang terlibat dalam investigasi 1MDB. Ia juga telah membekukan dua surat kabar negara tersebut dan memblokir akses ke situs Sarawak Report, yang dilaporkan terkait skandal korupsi.

"Demokrasi telah mati. Mati karena seorang pemimpin yang dipilih rakyat memilih untuk menumbangkan institusi pemerintah dan membuatnya menjadi alat untuk menyokong dirinya sendiri," tulis Mahathir dalam blog pribadinya, seperti dikutip VOA Indonesia, Selasa (11/8/2015).

Kantor Perdana Menteri tidak segera memberikan komentar terhadap pernyataan Mahathir tersebut.

Najib menyalahkan Mahathir dan menuduhnya berada di balik tuduhan korupsi yang ditujukan padanya. Bagi Najib tuduhan itu bermula ketika ia menolak melakukan permintaan pribadi Mahathir.

Mahathir, perdana menteri Malaysia yang paling lama berkuasa, telah menjadi kritikus terkeras Najib dan menarik dukungannya terhadap Najib tahun lalu setelah koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa kalah dalam pemilihan 2013.

Sebagai seorang negarawan, Mahathir yang dulu dikenal sebagai pembela Najib dan terus mempunyai pengaruh kuat di negara tersebut. Kini pria berusia 90 tahun itu menyerukan perdana menteri Najib mengundurkan diri terkait skandal 1MDB.

Namun, Najib tetap mendapatkan dukungan signifikan dari koalisi BN yang telah lama berkuasa dan dari dalam partainya sendiri, United Malays National Organisation (UMNO).

"Apa yang Najib lakukan tidak pernah terjadi sebelumnya di Malaysia," ucap Mahathir.

"Orang-orang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bayangan Najib terus berkuasa di negeri ini sangat menyedihkan," ketus Mahathir.

The Wall Street Journal melaporkan pada Juli bahwa para penyelidik yang sedang mempelajari tuduhan korupsi dan salah kelola finansial terkait 1MDB menemukan hampir USD700 juta atau sekitar Rp9,3 triliun disimpan di dalam akun atas nama Najib. Najib membantah menerima uang untuk kepentingan pribadi dan mengatakan tuduhan tersebut adalah bagian kampanye licik untuk memaksanya mundur dari tampuk kepemimpinan.

Unit anti korupsi Malaysia membersihkan Najib dari segala tuduhan yang diarahkan kepada PM Najib. Menurut unit anti korupsi tersebut, dana sebesar 2,6 miliar Ringgit itu diberikan oleh penyumbang dari Timur Tengah.

Najib pada Sabtu mengatakan bahwa uang yang ditemukan oleh unit anti korupsi di rekeningnya bukan merupakan sogokan dan bukan milik 1MDB, walaupun komisi anti korupsi tersebut masih harus mengonfirmasi pernyataannya.

Ketidakpastian politik Malaysia membayangi mata uang negara tersebut, dan nilai tukar ringgit mencapai titik terendah seperti saat krisis keuangan Asia terjadi 17 tahun lalu.


(FJR)