Cadangan Air di Batam Menyusut Drastis

Hendri Kremer    •    Rabu, 12 Aug 2015 09:56 WIB
kemarau dan kekeringan
Cadangan Air di Batam Menyusut Drastis
Foto: Ilustrasi krisis air/Ant_Asep Fathulrahman

Metrotvnews.com, Batam: Cadangan air di Batam, Kepulauan Riau, khusus di sejumlah dam menyusut drastis. Salah satunya adalah Dam Sei Ladi, Batam, menyusut hingga 3,1 meter padahal daya tampung Dam air terbesar di Batam tersebut mampu menampung air sekitar 9.490.000 m3. Penyusututan tersebut diakibatkan curah hujan di sekitar Dam air tersebut berkurang.

Saat ini, curah hujan di wilayah tersebut hanya 456,80 mm, jauh di bawah rata-rata curah hujan normal yang mencapai 2.109 mm. Namun begitu, PT Adhya Tirta Batam (ATB) berusaha untuk tidak membatasi produksi air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi yang memiliki kapasitas produksi air terpasang 240 liter/detik.

"Saat ini ketahanan Dam Sei Ladi memang masih cukup tinggi dibanding dam-dam lain seperti Nongsa dan Sei Harapan. Ketahanan Dam Sei Ladi masih mencapai 17 minggu. Namun perlu diketahui, jika IPA Sei Harapan mengalami penurunan produksi,  maka akan dibantu suplai dari Sei Ladi," kata Corporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno, Rabu (12/8/2015).

Sementara ini, pelayanan ATB bagi 16.515 pelanggan di kawasan Tiban, Batu Batam, Tanjung Uma dan sekitarnya masih normal. Konsumsi air bersih yang mencapai 678.799 m3/bulan masih terpenuhi dengan baik. Sedangkan, untuk kawasan perumahan Sei Harapan, Batam, ada 16.218 pelanggan ATB yang mendapatkan suplai air bersih dari Sei Harapan, dengan konsumsi air bersih setiap bulan mencapai 642.210 m3. Saat ini kondisi Dam Sei Harapan sangat memperihatinkan. Dam tersebut mengalami penyusutan 3,85 meter.

Perlu diketahui, bahwa masyarakat Pulau Batam sangat tergantung dengan suplai air bersih dari lima Dam air yang dibangun era jaman kepemimpinan BJ Habibie, hal ini dilakukan karena Batam memang tidak memiliki sarana air bersih 20 tahun yang lalu, ketika itu BJ Habibie berpendapat untuk membangun Pulau Batam harus ada ketersediaan air sehingga dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Batam, dan menarik investor asing untuk menanamkan modalnya.

Hotel dan Restoran Boros Air.

Di tempat terpisah, direktur Lembaga Pelayanan Konsumen Kepulauan Riau Rahmad Riyandi mengatakan air di Batam jika untuk keperluan masyarakat saja lebih dari cukup. Yang paling besar penggunaan air tersebut adalah tempat-tempat jasa perdagangan, para pengusaha hotel dan restoran di Batam sanga boros dalam penggunaan air, dan hal ini berdampak pada konsumen perumahan. Yang notabene jelas mempergunakan air untuk kebutuhan hidup.

"Harusnya, tempat-tempat jasa perdagangan seperti hotel dan restoran dikenakan tarif tinggi karena mereka jelas pengguna paling besar dalam masalah air di daerah ini," katanya.

Dia berharap, agar pemerintah daerah di Batam segera mengeluarkan regulasi air yang mengatur mekanisme pembayaran untuk konsumen di bidang jasa perdagangan. Agar para pengusaha hotel dan restoran tersebut, mau tidak mau berhemat menggunakan air untuk keperluannya.

Berdasarkan data yang ada di LPK Kepri, bila terjadi penurunan produksi di IPA Sei Ladi karena jumlah air baku menyusut, ATB akan mengalirkan air bersih dari IPA Duriangkang. Pipa ATB sudah interkoneksi sehingga memungkinkan untuk mengalirkan air dari Duriangkang. Hanya saja bila itu terjadi, beban IPA Duriangkang akan semakin berat.

Apalagi saat ini beban IPA Duriangkang sudah lumayan berat karena harus mengalirkan air ke sebagian pelanggan di wilayah Nongsa. Jika Dam Sei Ladi harus membantu Sei Harapan, kuantitas dan kontinyuitas suplai air bersih kepada pelanggan di wilayah Tiban, Tanjung Uma, dan Batu Batam tidak akan sama seperti saat ini karena suplai air Sei Ladi harus terbagi.


(TTD)