KPK: Nasib Priyo Tergantung Vonis Zulkarnaen Djabar

   •    Senin, 27 May 2013 21:20 WIB
KPK: Nasib Priyo Tergantung Vonis Zulkarnaen Djabar
Priyo Budi Santoso -- ANTARA/Andika Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: Nasib Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso dalam kasus korupsi pengadaan laboratorium komputer dan Alquran tahun anggaran 2011-2012 menunggu vonis Zulkarnaen Djabar dan putranya, Direktur Utama PT Karya Sinergy Alam Indonesia (PT KSAI) Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra.

"Bukan mencari alat bukti lain, tapi menemukan itu untuk menyinkronisasi. Insya Allah, ke depan kami bisa temukan," kata Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad di Jakarta, Senin (27/5).

Dia menambahkan, meski Priyo belum pernah diperiksa oleh KPK, belum tentu tidak terlibat. Sehingga, selain bukti yang dimiliki dan keterangan yang disampaikan di pengadilan, harus juga menunggu hasil putusan pengadilan yang di dalam amar putusan itu memutuskan keterlibatan yang bersangkutan.

"Jika ditemukan bukti dan dalam putusan pengadilan menyatakan ada keterlibatan yang bersangkutan, baru ditindaklanjuti oleh KPK," ujar Samad.

Artinya, KPK tengah menunggu alat bukti lain yaitu putusan pengadilan yang menyebutkan keterlibatan Priyo. Namun, Abrahamn belum mau mengungkapkan apakah KPK memiliki bukti fee tersebut sudah diterima oleh Priyo. KPK ingin majelis hakim menjustifikasi keterlibatan Priyo melalui amar putusan, termasuk juga justifikasi atas catatan tangan terdakwa kasus itu, Ketua Umum Gema MKGR Fahd El Fouz, yang berisi pembagian fee benar adanya.

"Iya, nanti itu dijustifikasi oleh hakim bahwa itu betul. Kalau sudah singkron dengan hasil sadapan itu. Kalau dua-duanya ada, yang bersangkutan bisa kita tindaklanjuti," ungkapnya.

Abraham menjelaskan, hasil sadapan dan catatan tangan Fahd merupakan keterangan baru yang berdiri sendiri sehingga harus didukung oleh alat bukti lain untuk kemudian orang yang disebutkan dalam sadapan itu ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam kasus itu, Zulkarnaen Djabar dan Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra dituntut masing-masing 12 tahun dan 9 tahun penjara. Jaksa juga meminta majelis hakim menjatuhkan denda Rp500 juta subsider 5 bulan kurungan kepada Zulkarnaen dan Rp300 juta subsider 4 bulan kurungan terhadap Dendy Prasetia. (Raja Eben)