Diberhentikan Jokowi, Ini Kiprah Indroyono Soesilo

Arif Wicaksono    •    Rabu, 12 Aug 2015 14:30 WIB
reshuffle kabinet
Diberhentikan Jokowi, Ini Kiprah Indroyono Soesilo
Indriyono Susilo ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Indroyono Soesilo merupakan salah satu menteri yang diganti oleh Presiden Jokowi. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 27 Maret 1955 ini memiliki pengalaman luas dalam bidang ilmu geologi dengan memilih bidang remote sensing saat mengambil gelar master di Universitas Michigan, USA.

Setelah lulus dengan gelar M.Sc pada tahun 1981, alumni ITB 1979 jurusan Teknik Geologi ini memperkuat ilmu ke jenjang S3 di Universitas Iowa, USA. Ia mengambil bidang Geologic Remote Sensing atas biaya Perusahaan Minyak Nasional (Permina) Foundation hingga tahun 1987.

Setelah pulang ke Tanah Air, suami dari pakar ekonomi UMKM Dr Ir Nining Sri Astuti MA ini mulai meniti karirnya di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Langkah ini termasuk luar biasa karena Indroyono sebenarnya sempat ditawari kerja dengan gaji USD30.000 per tahun di AS. Namun, ia lebih memilih menjadi pegawai negeri di lingkungan BPPT dengan gaji yang sangat pas-pasan. Menurut dia, gaji kecil bukan masalah, yang penting hasil-hasil karyanya bisa berguna bagi bangsa Indonesia.

Ia pernah menjadi anggota tim pembangunan stasiun bumi satelit remote sensing di Pare-Pare,  Sulawesi Selatan, dan ikut mendukung pembangunan 120 pusat pengolahan data satelit remote sensing di Indonesia (1987-1992).

Setelah lulus dengan gelar M.Sc dari Universitas Michigan, USA pada tahun 1981, alumni ITB 1979 jurusan Teknik Geologi ini terus memperdalam keilmuannya ke jenjang S3 dengan mengambil bidang Geologic Remote Sensing di Universitas Iowa, USA.

Peluang untuk membangun teknologi remote sensing di Indonesia semakin terbuka lebar tatkala ia dipercaya menduduki jabatan Kepala Sub Direktorat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (TISDA) Matra Dirgantara BPPT dari tahun 1995-1997. 

Karirnya pun terus menanjak dengan menduduki jabatan  Direktur Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT dan Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam.

Pada tahun 1999, Indroyono kemudian berkiprah di Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan menjadi Dirjen Penyerasian Riset dan Eksplorasi Laut. Jabatan terakhirnya di DKP adalah Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) yang diemban dari tahun 2001-2008.

Setelah itu, ia diangkat menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesra) Republik Indonesia pada 20 Juni 2008, menggantikan Prof Dr A Qodri Azizy MA yang meninggal dunia pada 19 Maret 2008. 

Sebagai Sesmenko Kesra, Indroyono bertanggung jawab untuk memastikan koordinasi yang sehat dan efektif antara 17 Kementerian dan Badan yang mengelola masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan, pendidikan, kemiskinan, perumahan, makanan, gizi, perempuan, anak, dan lingkungan.

 Indroyono dipercaya pemerintah untuk mengikuti pemilihan Direktur Jenderal FAO (Food and Argiculture Organization) periode 2012-2015 yang berlangsung di Roma pada 25 Juni-2 Juli 2011. Indroyono maju mewakili Indonesia dan negara ASEAN bersaing dengan 4 kandidat lain yang berasal dari Austria, Brasil, Iran, dan Irak.

Berkat pengalaman dan kualitasnya ia menjadi wakil ketua dalam APEC Senior Official Meeting yang membahas isu-isu kelautan di 2005. 

Ia termasuk inisiator dalam pembentukan Rencana Aksi Daerah Mengenai Pemancingan yang Bertanggung Jawab, melibatkan 10 negara di kawasan Asean serta Australia (2007) dan pernah memimpin pengelolaan konservasi sumber daya kelautan dari APEC Working Group pada 2006-2008 ; dan menjadi Ketua Delegasi Indonesia dalam konferensi-konferensi baik di tingkat regional maupun internasional.

Dia juga ikut mengawasi satu Proyek Studi Pemberantasan Praktek IUU Fishing di Laut Arafura pada 2008 ; menjadi delegasi Indonesia dalam Inisiatif UNEP-PBB Karbon Biru Dana FAO ; Sekretaris di Eksekutif World Ocean Conference 2009 yang menghasilkan Deklarasi Kelautan Manado ; dan sebagai penggerak utama dalam pembentukan Coral Triangle Initiative pada 2007.

Sederet penghargaan dari pemerintah juga sudah ia terima antara lain, penghargaan Sarwono Prawirohardjo VIII dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2009; Satya Lencana Dwija Sistha RI tahun 2003; Penulis Inovasi Teknologi Terbaik dari Menristek tahun 2005; Satya Lencana Karya Satya dan Bintang Utama RI tahun 1999; Satya Lencana Pembangunan RI tahun 1995, dan Adhicipta Rekayasa 1993 dari Persatuan Insinyur Indonesia.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pejabat pemerintah, Indroyono juga mendedikasikan dirinya sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta, seperti ITB, ITS, dan Trisakti, termasuk menjadi staf pengajar luar biasa di lingkungan Seskoad TNI-AD Bandung dalam kurun waktu 1988-1995. 






(SAW)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

4 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA