Catatan Reshuffle Dini Kabinet Jokowi

Coki Lubis    •    Kamis, 13 Aug 2015 01:10 WIB
reshuffle kabinet
Catatan <i>Reshuffle</i> Dini Kabinet Jokowi
Lima mentri dan seskab baru setelah pelantikannya oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. (foto: Antara/Yudi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Meski sudah dapat diduga, perombakan keanggotaan Kabinet Kerja tetap punya efek kejut. Reshuffle dilakukan sebelum para menteri genap satu tahun bekerja, waktu yang cukup dini untuk ukuran sebuah kabinet pemerintahan.

Di sisi lain pengumuman reshuffle pada Rabu (12/8/2015) sebenarnya sudah sangat ditunggu. Bahkan sebelum Presiden Jokowi memperkenalkan para pembantunya kepada masyarakat pada 26 Oktober 2014.

Ihwal ketidakpuasan keanggotaan kabinet berhembus sejak nama-nama bakal calonnya muncul di media massa. Berdasar catatan Metrotvnews.com, setidaknya ada empat kubu 'bersaing' mendapat tempat dalam pemerintahan baru RI. Mereka adalah kubu PDIP, Jusuf Kalla, parpol selain PDIP dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Tim Transisi dan relawan tim sukses Jokowi-JK.

Adalah kubu terakhir yang lantang mengkritisi daftar calon menteri. Relawan mengusung isu zaken cabinet, bahwa kabinet kerja harus diisi para profesional di bidangnya. Parpol menjawab dengan menegaskan bahwa banyak profesional yang jadi kader parpol.

Jokowi selaku pemegang hak prerogatif dalam penentuan menteri memilih win win solution. Pos kementerian tetap 34 seperti era SBY-Boediono, jumlah yang dalam kampanye Pilpres 2014 disebutnya harus dirampingkan. Pun PKPI yang tidak kebagian kursi menteri, akhirnya 'dikompensasi' dengan mengangkat Sutiyoso sebagai Kepala BIN.

Rini, Andi & Tedjo

Suara meminta reshuffle tetap terdengar di saat Kabinet Kerja sedang bekerja. Melalui insiden masing-masing, Menteri BUMN Rini Soemarmo, Seskab Andi Widjajanto dan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno jadi bulan-bulanan sebagai yang paling layak diganti. 

Rini yang memimpin Tim Transisi, diketahui sangat dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Tetapi wanita mantan top eksekutif Grup Astra dan Menteri Perdagangan era Megawati itu bukan kader PDIP. Elit politisi KIH tak sungkan menggugat keberadaan Rini dalam kabinet. 

Puncaknya adalah beredarnya rekaman suara yang diklaim sebagai menteri perempuan dalam sebuah rapat. Intinya berdasar rekaman itu si menteri dituding merendahkan Jokowi dengan pernyataan "presiden nggak tahu apa-apa". Tudingan diarahkan ke Rini, dan Rini membantahnya. Terbukti Rini tak Jokowi ganti.

Latar belakang personal lebih serupa dialami Seskab Andi Widjajanto. Pria muda yang tampil khas dengan kacamata dan topi bundarnya itu salah seorang 'pembisik' Jokowi dalam kampanye Pilpres 2014. Meski bukan kader PDIP, putra almarhum Mayjen Purn. Theo Syafei yang politisi senior PDIP ini pun diketahui dekat dengan Megawati. 

Andi 'kejeblos' saat mempertanyakan neraca keuangan milik Kementerian Keuangan ada pos utang RI kepada IMF. Meski sejatinya Andi saat itu justru sedang pasang badan untuk Presiden Jokowi yang menyebut RI masih punya utang kepada IMF, tak urung dia dituding sebagai biang kerok. Sebab sesungguhnya utang RI kepada IMF telah dilunasi lebih awal oleh pemerintahan Presiden SBY.

Jabatan Seskab yang Andi Widjajanto emban, pun diserahkan kepada Pramono Anung (PDIP).

Lain lagi dengan Tedjo Edhi Purdijatno. Purnawirawan TNI AL ini di-bully gara-gara 'rakyat yang tidak jelas' yang merupakan komentarnya terhadap gelombang aksi massa mendukung KPK dalam kasus proses hukum Komjen Bambang Gunawan. 

Ini diperparah dengan tiga pernyataannya yang lain dalam kasus yang sama, "Ini kelihatan sekali, seolah-olah hanya ingin menggagalkan Budi Gunawan. Kalau memang bukti sudah ada, ayo, segera diproses" dan "Apa KPK pasti benar?" juga "Jangan membakar massa (dengan orasi) 'Ayo rakyat. Kita harus begini-begitu’. Pernyataan itu adalah sikap kekanak-kanakan". 

Jabatan Menko Polhukam kini dipercayakan kepada Luhut Binsar Pandjaitan (tim sukses Jokowi-JK) yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Kepresidenan.

Pelambatan ekonomi

Di luar segala motifasi politik, sejak Juni lalu desakan reshuffle kabinet kembali mencuat yang didorong pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai tukar rupiah terhadap USD melemah tajam, IHSG runtuh, realiasi belanja pemerintah rendah, ekspor berkurang dan harga sejumlah harga bahan kebutuhan pokok melonjak. 

Pemerintah menyebut bukan hanya Indonesia yang nilai mata uangnya anjlok dan ekonominya melambat. Pemerintah menuding ada mafia di balik naiknya harga daging sapi, kelangkaan bera dan lain sebagainya. Sebaliknya rakyat menilai kinerja tim ekonomi Jokowi yang melempem melawan itu semua.

Sektor ekonomi memang menjadi fokus utama Jokowi merombak kabinetnya. Realiasinya adalah menunjuk;

  1. Darmin Nasution (mantan Gubernur BI) menggantikan Sofyan Djalil sebagai Menko Perekonomian, 
  2. Sofyan Djalil menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas menggantikan Andrinof Chaniago, 
  3. Rizal Ramli (Menko Ekonomi era Gus Dur) sebagai Menko Kemaritiman menggantikan Indroyono Soesilo, 
  4. Thomas Lembong (mantan petinggi BPPN, pengusaha) menggantikan Rachmat Gobel sebagai Menteri Perdagangan.



(LHE)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

6 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA