Indonesia Perlu Strategi Tangkis Devaluasi Yuan

Arif Wicaksono    •    Kamis, 13 Aug 2015 12:47 WIB
ekonomi china
Indonesia Perlu Strategi Tangkis Devaluasi Yuan
Yuan dan mata Uang Dunia Dok: Reuters

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah dinilai perlu menyiapkan grand plan strategy dalam menghadapi global currency war, terutama terhadap Tiongkok yang diperkirakan masih akan melakukan devaluasi secara 
gradually. Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak menjadi 'korban' dari kebijakan finansial negara lain.
 
"Dampak global currency war terhadap kondisi Indonesia ini akan berpengaruh sangat signifikan, karena perekonomian kita sangat rentan. Defisit terhadap Tiongkok akan membengkak, karena banyak proyek infrastruktur di Tanah Air yang mengandalkan Tiongkok. Tidak hanya raw material, capital goods, tetapi juga human resources," ungkap Chief Economist IGIco Advisory Martin Panggabean, Ph.D dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/8/2015).
 
‎Martin menjelaskan, dengan pendekatan ekspektasi pasar ini terlihat pelaku pasar finansial (pemodal) cenderung pesimistis terhadap kinerja perekonomian Indonesia.

Menurut Martin, fase pesimisme ini dimulai sejak Februari (pada saat kurs masih pada Rp12.600 per USD) dan terus memburuk sejak itu. Jika pada awal tahun para pelaku pasar masih memperkirakan adanya depresiasi sebesar 5.5 persen sepanjang 2015, kini para pelaku pasar memperkirakan bahwa depresiasi 12 bulan ke depan adalah sekitar 11 persen.

Dia menilai para pelaku pasar saat ini memperkirakan bahwa kurs pada akhir 2015 akan berada pada kisaran Rp14.000 per USD, sementara pada akhir 2016 kurs sudah mendekati level Rp15.000 per USD.

Keputusan tiba-tiba The People's Bank of China yang mendevaluasi 1,9 persen langsung menohok pasar keuangan global, diperkirakan masih akan berlanjut. Tiongkok secara gradually akan melemahkan mata uangnya. 

"Kondisi ini yang akan membuat pasar sulit stabil dan unpredictable," jelasnya. 
 
Cara Tiongkok ini mengikuti peran Jepang yang telah mengambil langkah kebijakan devaluasi untuk menumbuhkan ekspor dan ini terbilang sukses, bahkan tanpa kritik dari Amerika Serikat serta negara barat lainnya. 
 
‎"Belum lagi IMF membatalkan rencana memasukkan Yuan ke dalam SDR (Special Drawing Rights). Momentum inilah yang digunakan Tiongkok untuk melemahkan mata uangnya. Big Questions untuk kita adalah ‘berapa 
kali Tiongkok akan melakukan devalusi mata uangnya’," tegas Martin.
 
Untuk itu, pemerintah dengan tim menteri koordinator ekonomi yang baru diharapkan mempunyai strategi dan grand plan  “briliant” untuk menghadapi pertarungan mata uang global ini.
 
Martin memperkirakan, dalam enam bulan ke depan Tiongkok tidak akan berhenti melakukan devaluasi sampai terjadi recovery ekonomi di dalam negerinya. Dia menambahkan, kebijakan Tiongkok tidak akan berhenti 
hanya di pasar finansial saja karena tujuannya adalah ekspansi ekspor ke berbagai negara di dunia.
 
"Saat ini pasar akan bergerak, rupiah akan rentan, kita akan menjadi sasaran produk impor. Lalu bagaimana respons pemerintah untuk dapat benefit maksimum dari kondisi ini," jelasnya.
 
Martin berharap tim ekonomi yang dipimpin Darmin Nasution dapat meyakinkan pasar, dalam melakukan pengendalian defisit government, serta pengendalian current account. Selain itu pemerintah bersama dengan 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) juga diharapkan menyiapkan strategi ketahanan industri perbankan terhadap serangan currency war.





(SAW)

KPK Terima Surat Pemeriksaan Etik Fredrich dari Peradi

KPK Terima Surat Pemeriksaan Etik Fredrich dari Peradi

3 hours Ago

Peradi mengajukan surat pemeriksaan etik terhadap Fredrich ke KPK.

BERITA LAINNYA