Harga Properti Residensial Tumbuh Lambat di Kuartal II-2015

Angga Bratadharma    •    Kamis, 13 Aug 2015 13:23 WIB
bank indonesia
Harga Properti Residensial Tumbuh Lambat di Kuartal II-2015
Bank Indonesia (MI/USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial pada kuartal II-2015 mengalami pertumbuhan yang lambat. Survei harga properti residensial di 16 kota pada kuartal II-2015 berada pada level 186,80 atau meningkat sebanyak 1,38 persen, namun melambat dibandingkan 1,44 persen pada kuartal sebelumnya. 

Mengutip laman BI, Kamis (13/8/2015), kenaikan harga bahan bangunan (31,14 persen), upah pekerja (25,79 persen), dan kenaikan bahan bakar minyak (19,46 persen) merupakan faktor utama penyebab kenaikan harga properti residensial.

Secara triwulanan (quartal to quartal/qtq), perlambatan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe besar. Hasil survei mengindikasikan perlambatan kenaikan harga secara triwulanan terjadi pada rumah tipe besar, dari 1,11 persen menjadi 0,70 persen dan rumah menengah, dari 1,22 persen menjadi 0,85 persen.

Sementara itu, rumah tipe kecil justru mengalami kenaikan harga lebih tinggi (2,60 persen qtq) dari triwulan sebelumnya (1,98 persen qtq). Berdasarkan wilayah, Pontianak mencatat pertumbuhan harga paling rendah (0,04 persen), terutama pada rumah tipe besar (0,00 persen).

Sementara itu, Batam sebagai kota industri mengalami peningkatan harga paling tinggi (5,65 persen) terutama pada rumah tipe besar (9,45 persen). Pesatnya pertumbuhan sektor industri di Batam dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai mendorong investor untuk melakukan investasi di sektor konstruksi.

Secara tahunan (year on year/yoy), harga properti residensial juga mengalami kenaikan yang melambat. Pertumbuhan harga properti residensial secara tahunan tercatat sebesar 5,95 persen (yoy), melambat dibandingkan kenaikan harga pada triwulan I-2015 (6,27 persen yoy).

Dilihat berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga terendah terjadi pada rumah tipe besar. Sementar rumah tipe kecil mengalami kenaikan harga paling tinggi. Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terendah terjadi di Bandarlampung dan padang. Sementara kenaikan harga rumah tertinggi masih terjadi di wilayah timur Indonesia (Makassar dan Manado).

Selain itu, pertumbuhan penjualan properti residensial pada kuartal II-2015 mengalami perlambatan. Hasil survei menunjukkan bahwa penjualan properti residensial melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, dari 26,62 persen (qtq) menjadi 10,84 persen (qtq).

Perlambatan penjualan terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe menengah. Berdasarkan lokasi, perlambatan pertumbuhan penjualan rumah tipe menengah tertinggi terjadi di Medan.


(ABD)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA