Empat Nama Capim KPK Dicurigai PPATK

Ilham wibowo    •    Jumat, 14 Aug 2015 05:38 WIB
capim kpk
Empat Nama Capim KPK Dicurigai PPATK
Ketua Pansel KPK Destry Damayanti/ANT/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Tim Panitia Seleksi Pimpinan KPK Destry Damayanti menyebut ada sepuluh nama yang dicurigai Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Empat di antaranya ada di antara 19 nama yang lolos tahap IV.

Hal itu baru diketahui karena hasil penelusuran PPATK yang tak bisa diserahkan dalam waktu cepat.

"Waktunya agak mendesak sementara kami harus mengeluarkan 19 nama. Pada saat kami cek 10 orang itu sekitar empat orang ada dalam 19 orang ini," kata Destry dalam dialog Prime Time News Metro TV, Kamis 13 Agustus.

Destry mengatakan hasil temuan PPATK dan laporan lembaga masyarakat belum bisa menjadi dasar keputusan final. Pansel masih punya waktu pada saat tahap wawancara 24-26 Agustus untuk bisa mengklarifikasi beberapa temuan itu.

"Kami juga sedang melakukan tracking independen, diharapkan bisa meramu ini semua. Bahan ini tentunya hasil temuan yang sudah diperoleh untuk diperdalam," terangnya.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan sejumlah transaksi mencurigakan di sejumlah rekening milik calon pimpinan KPK. Tercatat, ada sepuluh orang capim yang memiliki transaksi mencurigakan.

"Kita memberikan catatan terhadap sepuluh orang calon pimpinan KPK," kata Ketua PPATK, M Yusuf saat dihubungi Metrotvnews.com, Selasa 11 Agustus.

Yusuf menuturkan, kesepuluh calon itu memiliki indikasi kadar penyimpangan yang sangat kentara. Dari sejumlah transaksi keuangan milik capim dan keluarga bersangkutan penyimpangan berkisar ratusan juta hingga miliaran rupiah. "Seperti ada modus menyamarkan harta," ujar Yusuf.

Meski demikian, Yusuf enggan membuka identitas kesepuluh capim tersebut. Dia hanya menegaskan, semuanya datang dari latar belakang yang variatif. "Tidak etis saya menyebutkan itu," tukas dia.

Yusuf mengakui, pihaknya sudah selesai melakukan tugas penelusuran atau tracking. Senin (10/8/2015) kemarin, pihaknya juga sudah menyampaikan hasilnya kepada Presiden Joko Widodo. "Kemarin sudah kita serahkan ke Istana," kata dia.
 


(OJE)