Kisah Nisa, Si Anak Bajang dari Dieng

Pelangi Karismakristi    •    Sabtu, 15 Aug 2015 15:44 WIB
dieng culture festival
Kisah Nisa, Si Anak Bajang dari Dieng
Nisa dalam dekapan Aisyah, ibundanya. (foto: Gilang)

Metrotvnews.com, Dieng: Masyarakat di dataran Tinggi Dieng, Wonosonbo, Jawa Tengah, menganggap anak-anak rambut gimbal adalah titipan dari leluhur. Titisan Sang Anak Bajang dari Laut Selatan.

Maka orang tua tidak boleh menolak jika putra atau putrinya 'dianugerahinya' rambut gimbal. Namun masalahnya justru anak-anak berambut gimbal ini sering dijadikan sebagai bahan olok-olok oleh teman-temannya.

Hal ini terjadi pada Khuni Khoirunisa atau kerap disapa Nisa, anak bungsu dari pasangan Taufik dan Aisiyah. Sebelum rambut gimbalnya tumbuh, siswi TK ini sering sakit-sakitan, demam panas tinggi hingga kejang-kejang. 

Tentu saja kondisi Nisa ini membuat kedua orang tuanya panik dan akhirnya memutuskan untuk membawanya ke dokter. Sayangnya jawaban dari dokter sungguh menyakitkan hati sang bunda.

"Saya periksakan Nisa ke dokter, sampai empat dokter. Jawabannya sama. Kata dokter anak saya tidak pernah mandi, tidak pernah keramas pakai sampo," ungkap Aisyah, ibunda Nisa.

"Anak saya dibilang jorok. Saya kecewa. Sakit hati. Padahal mandi setiap hari, pakai sampo," gusar perempuan berhijab ini saat ditemui di rumahnya di Desa Wonokromo, Wonosobo, Jawa Tengah, awal Agustus lalu.

Bukan hanya orang tua Nisa saja yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Nisa pun kerap mendapat cemoohan dari teman-teman di sekolahnya, tapi dirinya tidak tinggal diam. 

"Konco-koncone Nisa cok mboten seneng, podho moyoki Nisa rambute gembel koyo embek. Njuk Nisa matur si Mbok, jarene ken mbeto watu njuk dibalangke (teman-teman Nisa kadang tidak suka, mereka meledek Nisa rambutnya gimbal seperti kambing. Lalu Nisa bilang sama si Mbok, katanya disuruh bawa batu dan dilemparkan)," tutur Nisa yang jika sudah dewasa ingin menjadi bidan ini.

Di mata sang ayah Nisa adalah anak yang sopan dan menurut pada orang tuanya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini pun menyanggupi bebana (persyaratan ruwatan) berupa sekeranjang apel di dalam lemari es yang Nisa minta untuk ruwatan kelak.

"Semoga nanti setelah diruwat Nisa jadi sehat dan bisa melanjutkan sekolahnya," ujar Taufik yang hanya berpenghasilan Rp 20 ribu per hari dan rumah tempatnya tingga belum dialiri listrik.

Kini Nisa kecil telah melakukan ritual ruwatan yang menandai bahwa rambut gimbalnya sudah dipotong, itu berarti ia rambutnya akan tumbuh normal kembali. "Seneng sampun dipotong. Apele mengke dimaem bareng Mbok (Sangat senang gimbalnya sudah dipotong. Apelnya nanti dimakan bersama ibu)," ucap Nisa dengan mimik wajah ceria usai ruwatan rambut gimbal.

Saksikan kisah selengkapnya tentang Nisa yang diruwat, dalam video ini.
 
(LHE)

KPK akan Jemput Setnov dari RSCM?

KPK akan Jemput Setnov dari RSCM?

1 hour Ago

KPK diinformasikan akan menjemput Setya Novanto dari RSCM untuk dibawa ke Rutan KPK. Namun KPK …

BERITA LAINNYA