Seluk-Beluk Kontroversi Email Hillary Clinton

Willy Haryono    •    Minggu, 16 Aug 2015 12:22 WIB
pemilu as
Seluk-Beluk Kontroversi Email Hillary Clinton
Capres AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton (tengah), melambaikan tangan kepada para pendukungnya di Des Moines, Iowa, AS, Sabtu (15/8/2015). (Foto: AFP / WIN MCNAMEE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA)

Metrotvnews.com, Washington: Sejumlah pertanyaan masih berputar di sekitar masalah surat elektronik atau email Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat. 

Clinton dituding menggunakan akun email pribadi saat menjabat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Setelah berbulan-bulan menolak, Clinton akhirnya menyetujui penyerahan server pribadinya ke Biro Investigasi Federal atau FBI. 

Berikut apa yang sudah dan belum diketahui dari kontroversi email Clinton, seperti dikutip AFP, Minggu (16/8/2015): 

Catatan Email

Clinton mengirim dan menerima total 62.320 email selama Menlu pada 2009-2013. Beberapa dari email ini dikirim dan diterima akun pribadi. Clinton mengaku menggunakannya agar lebih praktis. 

Sesuai permintaan Kemenlu AS, Clinton menyerahkan email dari akun resmi sebanyak 30.490. Clinton menyebut 31.830 email lainnya adalah catatan pribadi. 

Kemenlu menyortir email resmi Clinton, dan 3.500 di antaranya sudah dirilis ke publik. Keseluruhan email akan hadir di tengah masyarakat pada Januari 2016. 

Bersifat Rahasia?

"Saya yakin tidak pernah mengirim atau menerima informasi rahasia apapun saat informasi itu dikirim dan diterima," kata Clinton pada awak media, 25 Juli. 

Namun investigator mengaku menemukan empat email yang mengandung informasi rahasia. Selasa lalu, Inspektur Jenderal Komunitas Intelijen Charles McCullough mengatakan kepada Kongres AS bahwa dua dari email itu adalah informasi "Super Rahasia."

Kemenlu bersikukuh tidak ada email Clinton yang isinya bersifat rahasia ketika dikirim atau diterima. Namun memang setelah dilihat kembali, beberapa di antaranya memang bersifat rahasia. 

Kemungkinan masih ada data rahasia lainnya, karena email yang diperiksa itu hanya sampel dari 30 ribu lebih total email. 

Investigasi

Surat kabar The New York Times melaporkan pada Juli tim investigator meminta Departemen Keadilan membawa masalah kontroversi itu ke "ranah hukum." 

Walau pada akhirnya permintaan itu diubah menjadi "ranah keamanan," sejumlah politisi Partai Republik tanpa ampun terus menggempur Clinton.

Dalam sebuah email penjelasan yang cukup panjang, kepala komunikasi Clinton, Jennifer Palmieri bersikukuh bahwa "sama sekali tidak ada unsur kriminal dari email atau server email Hillary."

FBI saat ini tidak hanya memeriksa Clinton, tapi juga sistem keamanan dari sang mantan Menlu itu. 


Perilisan Email ke Publik

Sebanyak 3.577 email Clinton yang dirilis ke publik memberikan gambaran mengenai aktivitas sang capres. Sebagian besar email itu adalah masalah personel atau mengenai laporan pers. Namun beberapa halaman dari dokumen itu sudah dihapus. 

Dari ribuan email itu diketahui bahwa teman Clinton, Sidney Blumenthal, secara rutin memberikan masukan kepada sang Menlu mengenai konflik di Libya. Padahal, Blumenthal bukan seorang pejabat negara. 

Kurang dari 10 persen email itu berhubungan dengan konflik Libya atau respon Clinton mengenai serangan teroris di Benghazi yang menewaskan empat diplomat AS, termasuk duta besar, pada 11 September 2012. 

Sekumpulan email terkait Benghazi dirilis pada Mei lalu, agar komite kongres dapat menyelidiki serangan teroris tersebut. 

Diretas?

Gubernur Wisconsin Scott Walker mengatakan dalam debat calon presiden pekan lalu bahwa Tiongkok dan Rusia mungkin lebih mengetahui isi email Clinton ketimbang Kongres AS. 

"Hal itu membuat keamanan nasional kita berada dalam bahaya," kata Walker. 

Pihak Clinton bersikukuh "tidak ada bukti kuat yang menunjukkan terjadinya pembobolan keamanan" terhadap akun atau server email. 



(WIL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA