Kekerasan di Tempat Wisata, Polisi Segera Tetapkan Tersangka

Deo Dwi Fajar Hari    •    Selasa, 18 Aug 2015 21:07 WIB
sengketa tanah
Kekerasan di Tempat Wisata, Polisi Segera Tetapkan Tersangka
Pintu gerbang Kampoeng Rawa Semarang, Metrotvnews.com/Deo Dwi Fajar Hari

Metrotvnews.com, Semarang: Polres Semarang segera menetapkan tersangka kasus pemukulan terhadap Ketua Koperasi Jasa Pariwisata (Kopjapari) Kampoeng Rawa, Agus Sumarno, di objek wisata Kampoeng Rawa, di Desa Bejalen, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 14 Agustus lalu.

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sopian, mengatakan pihaknya masih meminta keterangan 12 saksi. Guna melengkapi berkas, penyidik juga mengumpulkan beberapa barang bukti pendukung.

"Selanjutnya kami akan menaikkan ke tahap penyidikan untuk menentukan siapa saja tersangkanya. Kita juga masih akan mencari bukti lainnya," kata Herman, Selasa (18/8/2015).

Sementara itu, korban (Agus Sumarno) hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RS Ken Saras, Bergas, Kabupaten Semarang. Saat wartawan hendak meminta keterangan dari korban, pihak keluarga tidak mengizinkan. 

"Lebih baik jangan diganggu dulu karena Bapak masih dalam kondisi sakit," ujar Priyani, mewakili keluarga.

Paskakeributan, aktivitas di obyek wisata Kampoeng Rawa berjalan normal walaupun kantor pengelola obyek wisata tersebut nampak kosong. Hanya ada petugas loket, petugas keamanan, dan karyawan restoran.

"Para pengurus sudah pergi sejak kejadian itu. Saya tidak bisa memberikan keterangan apapun, salah-salah nanti justru jadi masalah," kata salah satu pegawai Kampoeng Rawa. 

Warga sekitar Kampoeng Rawa kesal lantaran mereka tak menerima uang bagi hasil dari objek wisata tersebut. Mereka mengamuk dan memukuli Agus Sumarno.

"Kami sudah berupaya melakukan pembahasan (bagi hasil) yang ditengahi Polres Semarang. Tapi mereka (manajemen Kampoeng Rawa) tak pernah mau hadir," kata Kepala Desa Bejalen, Nowo Sugiarto.

Lahan yang digunakan Kampoeng Rawa, kata Nowo, adalah milik warga Bejalen. Saat objek wisata dibangun beberapa tahun lalu, manajemen dan warga sepakat untuk membagi hasil pendapatan.

"Tapi sudah empat bulan tak ada bagi hasil, termasuk ke kelurahan," ujar Nowo.


(UWA)