Kabasarnas Terbang ke Lokasi Pimpin Evakuasi Korban Trigana Air

M Rodhi Aulia    •    Rabu, 19 Aug 2015 11:31 WIB
trigana air jatuh di papua
Kabasarnas Terbang ke Lokasi Pimpin Evakuasi Korban Trigana Air
Kepala Basarnas Marsdya FHB Soelistyo,--Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Bambang Soelistyo siang ini terbang dari Sentani, Jayapura, ke lokasi pesawat Trigana Air jenis ATR 42-300 jatuh. Bambang akan memimpin langsung evakuasi korban pesawat dari udara.

"Pukul 12.50 WIT, Kabasarnas beserta rombongan take off ke Oksibil. Semoga cuaca membaik dan bersahabat," kata Deputi Bidang Operasi SAR Basarnas Mayjen TNI Heronimus Guru melalui pesan singkat kepada Metrotvnews.com, Rabu (19/8/2015).

Setibanya di Bandara Oksibil, kata Heronimus, Kabasarnas langsung bergerak ke lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang. Jaraknya jika ditarik garis lurus sepanjang 14 kilometer dari Oksibil.

"(Kabasarnas) mengendalikan proses evakuasi lewat udara," imbuh Heronimus.

Proses evakuasi korban Pesawat Trigana Air berjenis ATR 42-300 dengan nomor penerbangan IL-267 jurusan Jayapura-Oksibil tadi pagi sempat terganggu. Sebab, di lokasi jatuhnya pesawat cuaca tidak bersahabat.

"Info cuaca pagi ini di Oksibil hujan lebat dan berkabut. Ini menghambat operasi evakuasi. Semoga agak siang bisa clear," kata Heronimus.

Tim SAR gabungan sudah menemukan semua jasad penumpang dan kru Trigana yang jumlahnya mencapai 54 orang. Sebagian ditemukan dalam kondisi fisik tidak utuh. Jasad sudah dimasukkan ke kantong jenazah. Namun hingga kini belum ada yang dibawa ke luar lokasi.

Karena beberapa kali terkendala oleh cuaca. Tim SAR gabungan masih memikirkan sejumlah opsi terkait mekanisme evakuasi korban ke luar lokasi. Sedikitnya, ada tiga opsi yang bakal dijalankan dalam evakuasi ini.

Kepala Basarnas Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo mengatakan opsi pertama yang bakal dilakukan tim Basarnas, yakni dengan sistem jaring atau netting yang digabung dengan sistem hoist (kerekan).

"Alternatif kedua, kita membuat helipad. Tapi ini sulit karena medannya tidak memungkinkan dengan rimbunnya pohon di hutan Papua," kata Bambang kepada Metro TV, Selasa, 18 Agustus.

Tim gabungan mengevakuasi jenazah korban pesawat Trigana Air di pegunungan Ogbape, dekat distrik Oksibil,--Foto: Dok/AFP

Selanjutnya, menurut Bambang, alternatif cara yang ketiga adalah dengan mengevakuasi korban lewat jalur darat untuk menuju Oksibil.

Dari ketiga alternatif itu, Bambang mengaku, akan memprioritaskan cara yang pertama, yakni dengan menggunakan sistem netting dan hoist. "Mudah-mudahan dengan cara ini lebih efektif kita bisa bawa ke Oksibil," sebut dia.

Bambang menerangkan, hambatan yang dialami tim di lapangan adalah cuaca dan lokasi. Dua hal itu menjadi kendala buat tim mengevakuasi korban.

"Mudah-mudahan dengan terbukanya sedikit ruang untuk helikopter ke sasaran itu bisa lebih memudahkan evakuasi," terang dia.


(MBM)