Australia Fokus Baru Pemasaran Investasi Indonesia

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 20 Aug 2015 09:58 WIB
bkpm
Australia Fokus Baru Pemasaran Investasi Indonesia
Kepala BKPM Franky Sibarani -- FOTO: MTVN/Husen Miftahudin

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) saat ini membidik fokus baru, yakni Australia, dalam menggaet investasi ke Indonesia.

"Australia merupakan salah satu fokus pemasaran investasi Indonesia, dan menambah lima fokus sebelumnya yakni Singapura, Jepang, Korea Selatan, RRT, dan Taiwan," ungkap Kepala BKPM Franky Sibarani, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Franky menjelaskan, kegiatan pemasaran investasi di Australia merupakan upaya untuk meningkatkan realisasi investasi guna mencapai target realisasi investasi Rp3.500 triliun dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Menurut data BKPM, selama kurun waktu 2010 hingga semester I-2015, total realisasi investasi Australia mencapai USD1,9 miliar. Australia menduduki peringkat ke-12 sebagai penyumbang investasi di Indonesia.

Sementara itu, sebanyak 42 persen merupakan investasi di bidang kimia dasar, barang kimia dan farmasi, diikuti oleh 41 persen investasi pertambangan, dan empat persen investasi di bidang industri logam dasar. Sebagian besar investasi Australia terletak di Kalimantan dan Jawa.

Dubes RI untuk Australia dan Republik Vanuatu, Nadjib Riphat Kesoema, yang juga hadir dalam kegiatan pemasaran investasi tersebut menegaskan bahwa pengusaha Australia harus mulai lebih berani mengambil risiko dan melakukan investasi di Indonesia. Selama ini, kalangan pebisnis Australia lebih banyak melakukan perdagangan dan dinilai sangat berhati-hati dalam melakukan investasi.

"Jadi karakteristik pengusaha Australia yang risk adverse membuat mereka seringkali ketinggalan dengan investor-investor di negara-negara seperti Jepang dan RRT dalam mengambil keputusan berinvestasi," jelas Nadjib.

Persoalan ini, menurut Nadjib, lebih karena ketidakpahaman budaya kedua negara. "Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Singapura beberapa waktu lalu menekankan pentingnya untuk tetap melakukan investasi meskipun dalam keadaan krisis," pungkasnya.


(AHL)