Gerakan Literasi Sekolah Gunakan Buku Lama Milik Negara

Intan fauzi    •    Kamis, 20 Aug 2015 15:00 WIB
pendidikan
Gerakan Literasi Sekolah Gunakan Buku Lama Milik Negara
Buku uang digunakan untuk Gerakan Literasi Sekolah. (Foto:MTVN/Intan Fauzi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gerakan Literasi Sekolah yang digalang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih menggunakan buku-buku lama milik negara yang dicetak oleh Pusat Bahasa. Cerita lokal dihimpun langsung oleh lembaga terkait.
 
"Kebetulan Badan Bahasa beberapa tahun yang lalu sudah menghimpun cerita-cerita lokal itu, lalu kami koreksi," kata Kepala Badan Bahasa, Mahsun, kepada Metrotvnews.com di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2015).
 
Hal yang sama disampaikan oleh Staf Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Tri Amanat. Menurut Tri, semua adalah buku lama milik Pusat Bahasa.
 
Buku yang dimiliki oleh Pusat Bahasa ada 446 buah. Semua melalui proses yang ketat agar buku menjadi layak dibaca oleh anak didik. "Semua buku yang masuk harus diseleksi dengan ketat,” ujar Tri.
 
Sementara ini baru ada 58 judul buku yang masuk dalam kategori layak baca. Sisanya masih dalam proses penyeleksian. "Kita masih proses. Kegiatan literasi sekolah ini kan baru berjalan," imbuhnya.
 
Dari 58 judul buku itu, baru 12 yang sudah dicetak karena sudah memiliki soft copy. "Kita dahulukan yang sudah ada soft copynya," ujar Tri.
 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota meluncurkan sebuah gerakan literasi sekolah. Gerakan ini bertujuan menumbuhkan sikap budi pekerti luhur kepada anak lewat bahasa.
 
Gerakan literasi mewajibkan seluruh peserta didik mengawali kegiatan belajar dengan membaca literatur yang tak berhubungan dengan mata pelajaran di sekolah.
 


(FZN)