Pembelian Valas Diperketat, Pengamat: Diharapkan Redam Tekanan USD

Angga Bratadharma    •    Jumat, 21 Aug 2015 15:16 WIB
rupiahvalas
Pembelian Valas Diperketat, Pengamat: Diharapkan Redam Tekanan USD
Pengamat Ekonomi Farial Anwar (Foto: MTVN/Angga Bratadharma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Ekonomi Farial Anwar berharap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang akan mengetatkan aturan mengenai pembelian valutas asing (valas) dari USD100 ribu menjadi USD25 ribu per bulan mampu meredam tekanan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap nilai tukar rupiah.

"Saya harapkan bisa mengurangi (tekanan nilai tukar rupiah oleh USD). Kita harapkan aturan itu menurunkan permintaan akan USD. Mudah-mudahan (aturan pengetatan pembelian valas) efektif," ungkap Farial, ketika ditemui di Gedung MetroTV, Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Kendati memiliki harapan tersendiri dari aturan tersebut, namun Farial menjelaskan bahwa ada beberapa persoalan yang muncul dari aturan itu. Misalnya, tidak ada laporan antara suatu bank dengan bank lainnya terkait seseorang atau instansi membeli valas. Selain itu, sulit untuk menentukan atau melakukan pemeriksaan mengenai underlying yang digunakan.

"Lalu, apakah dokumen yang digunakan asli atau tidak untuk membeli valas itu. Memang ini menjadi problem. Tapi, paling tidak saya memberikan apresiasi karena langkah BI untuk meredam rupiah," jelas Farial.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, untuk meredam tekanan nilai tukar rupiah terhadap USD saat ini, langkah BI terkait PBI penggunaan rupiah di dalam negeri perlu didukung secara penuh. Segala pihak terkait perlu melakukan sinergi sehingga PBI penggunaan rupiah benar-benar optimal dijalankan di Indonesia.

Sayangnya, ia berpendapat, rupiah walau dibutuhkan tetapi tidak dicintai. Sampai saat ini, masih banyak pihak yang lebih suka bertransaksi dengan USD, meski tidak dengan pihak asing sebagai mitra dagangnya. Bahkan, di pelabuhan atau bandar udara domestik transaksi uang asing justru masih marak terjadi.

"Perusahaan-perusahaan swasta, BUMN dan sektor ritel banyak yang menggunakan USD dalam transaksi mereka. Bahkan, ada saja yang meminta pengecualian untuk sementara waktu tidak menggunakan rupiah dalam transaksinya. Padahal, rupiah sudah di level Rp13.900 per USD. Kalau terus seperti ini, bisa berbahaya bagi perekonomian Indonesia," pungkasnya.


(ABD)