RAPBN 2016, Pengamat: Pertumbuhan Ekonomi Realistis di 5,2%

Angga Bratadharma    •    Jumat, 21 Aug 2015 15:23 WIB
pertumbuhan ekonomirapbn 2016
RAPBN 2016, Pengamat: Pertumbuhan Ekonomi Realistis di 5,2%
Pengamat Ekonomi Farial Anwar (Foto: MTVN/Angga Bratadharma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Langkah pemerintah yang menetapkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,5 persen yang tertuang di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 dinilai tidak realistis. Seharusnya, pemerintah lebih jeli dalam memperhatikan situasi dan kondisi perekonomian, baik ekonomi dunia maupun ekonomi Indonesia.

Pengamat Ekonomi Farial Anwar menjelaskan, perlambatan ekonomi Indonesia di semester I-2015 bukanlah upaya kesengajaan dari pemerintah dalam rangka menekan laju impor yang terus membengkak dari waktu ke waktu. Perlambatan ekonomi di semester I-2015 terjadi lantaran belanja pemerintah mengalami perlambatan.

"Kalau dulu karena untuk menekan impor. Kalau sekarang tidak. Itu (perlambatan ekonomi di semester I-2015) karena terlambatnya goverment spending di kuartal I-2015 dan di kuartal II-2015. Istilahnya proses transisi," kata Farial, ketika ditemui di Gedung MetroTV, Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Dirinya berharap, komitmen pemerintah yang akan menggenjot belanja di semester II-2015 bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Bahkan, pemerintah disarankan untuk tidak menargetkan pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi. Lebih bijak bila target yang ditetapkan tidak terlalu tinggi tapi realisasinya bisa melebihi target tersebut.

"Daripada memasang pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi tapi realisasi tidak tercapai, lebih baik targetnya tidak terlalu tinggi tapi pencapaiannya melebihi target tersebut. Target pertumbuhan 2016 di 5,5 persen itu terlalu tinggi. Harusnya 5,2 persen. Lebih realistis," pungkas Farial.


(ABD)