Menjaga Optimisme Industri Kita

   •    Sabtu, 22 Aug 2015 06:07 WIB
ekonomi indonesia
Menjaga Optimisme Industri Kita

EKONOMI Indonesia hari ini bukan sedang dalam kondisi krisis, melainkan hanya terkena demam. Demam itu bila dibiarkan bisa kian parah dan merembet ke sektor lain, tapi jika tepat dan cepat ditangani, ia tak akan bercokol lama.

Menganalogikan kelesuan ekonomi saat ini dengan istilah demam sejatinya merupakan bentuk optimisme. Perlambatan yang terjadi sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini tak perlu direspons dengan paranoid berlebihan.

Ekonomi kita belum sampai krisis, apalagi sekarat. Kita cuma meriang. Sewajarnya pula bila dalam situasi itu, optimisme dan harapan terus dipupuk berbarengan dengan penyiapan langkah-langkah dan kebijakan yang tepat untuk keluar dari kondisi sekarang.

Dalam kaitannya dengan penjagaan optimisme ini kita patut mengapresiasi inisiatif para pelaku industri otomotif yang tetap menggelar pameran otomotif besar berskala internasional di Tangerang Selatan dan Jakarta meski situasi pasar sedang tidak memihak mereka.

Data menunjukkan penjualan otomotif di semester I 2015 anjlok hingga 20% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Proyeksi penjualan sampai akhir tahun pun diperkirakan turun di angka yang sama.

Bahkan sampai Agustus ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sudah dua kali merevisi target penjualan 2015 saking tak bersahabatnya pasar. Namun, the show must go on.

Ada dua perspektif positif yang dapat kita lihat dari penyelenggaraan pameran itu. Yang pertama, industri otomotif sepertinya ingin menjadikan momentum pameran tahunan itu sebagai cara untuk mengembalikan gairah pasar yang meredup.

Mereka tahu betul daya beli masyarakat belum akan sembuh, tapi ketimbang tak melakukan apa-apa, mereka memilih untuk memulihkan terlebih dulu kegairahan pasar. Apalagi sampai akhir tahun lalu, gairah itu sebetulnya masih berkobar-kobar.

Langkah itu bukannya tanpa alasan. Dalam kurun satu dekade terakhir, sektor otomotif harus diakui turut berperan dalam peningkatan investasi langsung (direct investment) melalui pengembangan dan pembangunan pabrik-pabrik baru dari produsen otomotif besar.

Terakhir, industri otomotif asal Tiongkok, Wuling, juga telah komit menanamkan investasi mereka di Indonesia senilai Rp9 triliun.

Dengan begitu, sektor tersebut juga andil memberikan lapangan kerja sekaligus menyumbang angka ekspor yang tak bisa dibilang sedikit. Hingga tahun lalu, bahkan industri otomotif telah menyerap 3,1 juta tenaga kerja dengan ekspor telah menjelajah di 90 negara.

Tidak berlebihan jika sektor otomotif disebut telah menjelma menjadi bagian penting dalam perjalanan industrialisasi di negara ini.

Karena itu, dalam perspektif lain dapat dilihat bahwa melalui pameran itu, industri otomotif seperti ingin mengingatkan pemerintah bahwa industri kita belum kiamat.

Dunia industri masih akan menjadi pilar penting penopang perekonomian jika pemerintah menyertainya dengan kebijakan yang betul-betul berpihak pada penciptaan industri yang tangguh.

Begitu pula bila kita semua ingin sektor otomotif kembali berjaya dan berperan menonjol dalam menumbuhkan ekonomi, bukan cuma gairahnya yang disembuhkan. Pasar yang besar membutuhkan industri yang kuat dan industri yang kuat memerlukan pemerintah yang punya stok inisiatif berlimpah dalam hal penciptaan kebijakan yang ramah bagi industri.