Pengamat: NU Diambang Arus Politik Praktis

Cahya Mulyana    •    Minggu, 23 Aug 2015 18:35 WIB
nupbnu
Pengamat: NU Diambang Arus Politik Praktis
Waketum PBNU Slamet Effendi Yusuf, Ketum PBNU Said Aqil Siraj dan Rois Aam PBNU KH Maruf Amin mengumumkan formatur struktur PBNU 2015-2020 di kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (22/8). Foto: Antara/Reno Esnir

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat politik dari Universitas Paramadina Djayadi Hanan menilai organisasi keagamaan terbesar Nahdlatul Ulama, diambang arus politik praktis.

Hal itu menurut dia, tak lepas dari imbas kepengurusan periode 2015-2020 saat ini yang diisi sejumlah politisi. Mereka dapat menggerus khittah netralitas NU dari politik praktis.

"Yang paling mencolok dari perubahan NU saat ini adalah Sekjen PBNU 2015-2020 dijabat Helmy Faisal Zaini, yang adalah salah satu politisi utama PKB," ujar Djayadi, Minggu (23/8/2015).

Ia menambahkan, "Jadi jelas PKB punya akses utama untuk ikut menentukan arah politik NU ke depan". (Baca: Susunan Pengurus Baru PBNU Periode 2015-2020)

Menurutnya, kemenangan kyai Said Aqil sebagai Ketua PBNU periode 2015-2020 menunjukan, PKB turut andil dalam Muktamar dan tentu punya pengaruh besar dalam NU. Dampak positifnya, mungkin PKB akan lebih punya kemauan untuk memperjuangkan warga NU. Namun dampak negatifnya, NU ke depan tak akan sepi dari intrik politik.

"Itu akibat pertama antara kelompok yang ingin NU lebih tegas memihak PKB dengan kelompok yang ingin NU lebih netral. Kedua, ada sejumlah politisi dari partai berbeda di kepengurusan NU yaitu Nusron Wahid dari Partai Golkar. Ini bisa menimbulkan tarik menarik antarparpol berbeda dalam NU," paparnya.  

(Baca: Ketua Fraksi PKB DPR RI Jadi Sekjen PBNU?)

"Ketiga, ada sejumlah politisi dengan kepentingan berbeda, misalnya Saifullah Yusuf dari PKB versus Khofifah Indar Parawansa. Jadi bisa juga terjadi tarik menarik kepentingan politik antarpersonal politisi yang jadi pengurus NU," tambah dia.

Menurutnya, PKB ngotot ingin menguasai NU akibat pemilih aktif PKB adalah warga nahdliyin. "Kenyataannya memang sebagian besar warga NU yang aktif lebih banyak memilih PKB dibanding partai lain, jadi wajar saja kalau PKB ingin mengklaim lebih luas sebagai mewakili NU," tegasnya.


(MBM)