Tujuh Jurus Menko Rizal Benahi Dwelling Time

Angga Bratadharma    •    Senin, 24 Aug 2015 11:28 WIB
dwelling time
Tujuh Jurus Menko Rizal Benahi <i>Dwelling Time</i>
Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli (MI/ROMMY PUJIANTO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyiapkan tujuh jurus atau tujuh langkah guna menekan dweling time di pelabuhan Tanjung Priok. Pembenahan meliputi perbaikan arus barang, sistem teknologi informasi, sampai memberantas banyak mafia yang selama ini 'bermain' di sana.

Rizal mengatakan bahwa pihaknya sudah mempelajari masalah yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok. Masalahnya memang cukup rumit. Terlalu banyak pihak yang berkepentingan. Namun, dirinya optimistis mampu menyelesaikan persoalan tersebut.

"Insya Allah pekan depan kami mulai benahi. Tanjung Priok bisa kita benahi hingga menjadi pelabuhan internasional yang efisien dan berdaya saing tinggi," kata Rizal Ramli, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (24/8/2015).

Adapun langkah yang dimaksudkan, yakni pertama, memperbanyak jalur hijau bagi barang-barang ekspor impor yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Sedangkan jalur merah bagi barang yang dicurigai bermasalah, akan ditekan sampai pada tingkat minimal. Untuk keperluan ini, kementeriannya akan menjalin koordinasi dengan Ditjen Bea dan Cukai.

Kedua, meningkatkan biaya denda bagi kontainer yang telah melewati masa simpan di pelabuhan. Selama ini tarif denda yang berlaku sangat rendah, yaitu hanya Rp27.500 per hari per kontainer 20 feet. Akibatnya, sebagian pengusaha lebih suka 'menyimpan' barangnya di pelabuhan daripada membayar sewa gudang yang jauh lebih mahal.

"Ketiga, kami akan membangun jalur rel kereta api sampai ke lokasi loading dan uploading peti kemas. Di negara-negara maju, akses jalur rel kereta api memang sampai ke pelabuhan. Dengan akses kereta api ke pelabuhan, maka arus barang akan lebih cepat dan murah," ujar Rizal.

Keempat, meningkatkan sistem teknologi informasi dalam pengelolaan terminal peti kemas. Dengan begitu, pengusaha dapat dengan mudah mengetahui posisi peti kemas secara detil dan akurat. Data ini sangat membantu dalam proses penanganan dan relokasi peti kemas dengan cepat dan murah.

Kelima, sudah saatnya Tanjung Priok menambah kapasitas crane. Jumlah yang ada saat ini sudah tidak memadai, sehingga kurang memberi daya dukung. Keenam, menyederhanakan peraturan dan perizinan yang berlaku di pelabuhan. Untuk itu, akan dijalin koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti PT Pelindo, Karantina, Bea & Cukai, Kepolisian, Angkatan Laut, dan lainnya.

"Yang tidak kalah pentingnya, kami juga akan memberantas mafia yang selama ini 'bermain' di pelabuhan. Mereka inilah yang secara langsung maupun tidak langsung telah membuat Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang lamban, tidak efisien, dan berbiaya tinggi,” ungkap Rizal Ramli.

Dia juga menyatakan tidak gentar jika harus berhadapan dengan backing para mafia tersebut. Hal ini diantisipasinya dengan melakukan menggandeng sejumlah pihak agar persoalan dwelling time bisa segera terselesaikan dengan baik.

"Saya sadar betul risikonya pasti ada. Saya siap menghadapi siapa pun mereka. Itulah sebabnya saya menggandeng KSAL bahkan Panglima TNI untuk memberantas para mafia. Di atas semua itu, saya bekerja untuk kepentingan bangsa agar perekonomian kita tumbuh dengan baik. Agar rakyat bisa lebih sejahtera. Saya yakin Allah akan membantu saya," pungkas Rizal Ramli.


(ABD)