Tak seperti Kisah 1998, CAR Perbankan Masih Aman

Arif Wicaksono    •    Senin, 24 Aug 2015 18:04 WIB
ekonomi indonesia
Tak seperti Kisah 1998, CAR Perbankan Masih Aman
ilustrasi pembangunan ekonomi. ANT/Basri Marzuki

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak pengamat mengkhawatirkan nilai tukar rupiah yang jatuh ke level Rp14.000 per USD. Ada ketakutan bahwa ini akan seperti dengan kisah 1998 dengan pergerakan mata uang rupiah 
yang mencapai Rp15.000 per USD.

Hal ini yang juga dikhawatirkan oleh Research and Analyst PT Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar bahwa nilai tukar rupiah akan terus melemah karena sentimen negatif dari kenaikan suku bunga The Fed dan devaluasi mata uang Tiongkok.

"Pelemahan ini karena Tiongkok yang memutuskan untuk melakukan devaluasi mata uangnya saya juga melihat ada kepanikan investor dalam menghadapi currency wars," ujar dia kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Senin (24/8/2015)

Akibat dari devaluasi itu adalah investor lebih tertarik untuk mengoleksi dolar AS ketimbang berinvestasi di pasar modal ataupun obligasi. Sehingga credit default swap sudah mencapai level 246,17 atau naik 74,1 dalam sebulan.

"Hal ini karena uang investor asing senilai USD587 juta sudah lari dari indonesia," kata dia.

Namun begitu dia melihat hal ini tidak akan permanen karena fenomena ini terjadi juga di hampir semua negara baik di belahan eropa dan asia. Semua negara ikut tertekan terhadap penguatan dollar AS.

Dia mengatakan kondisi ini masih lebih baik ketimbang dengan kondisi 1998 dengan posisi  Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan yang masih 20 persen. Padahal kondisi pada 1998 CAR perbankan mencapai minus.

Artinya jika tidak ada perubahan suku bunga perbankan masih bisa memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan melakukan ekspansi kredit.

"Selama BI rate tidak naik BI masih bisa menggerakan roda ekonomi karena kredit macet masih di level tiga persen, jadi masih wajar secara fundamental," kata dia. 
 



(SAW)