Nasib Penerbangan Perintis

Hardiat Dani Satria    •    Senin, 24 Aug 2015 19:57 WIB
penerbangan
Nasib Penerbangan Perintis
Pesawat Cessna Grand Caravan milik maskapai Susi Air lepas landas Saat peresmian penerbangan perintis perdana di Bandara Trunojoyo, Sumenep, Jawa Timur. (foto: Antrara/Saiful Bahri).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pesawat Trigana Air jurusan Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua dikabarkan mengalami hilang kontak pada Minggu (16/8/2015) pukul 14.55 WIT. Pesawat jenis ATR-42/300 dengan nomor penerbangan IL-267 itu berangkat pada pukul 14.22 WIT dari Bandara Sentani, Jayapura, Papua dan dijadwalkan mendarat di Bandara Oksibil pukul 15.55 WIT.

Tetapi, tiga puluh menit usai lepas landas, pesawat tersebut hilang kontak komunikasi dengan bandara Sentani. Petugas menara bandara Oksibil menghubungi pesawat pada Pukul 15.00 WIT, namun tidak ada jawaban. Kemudian, pukul 15.30 WIT, pesawat Trigana Air lainnya jenis ATR PK YRR terbang melakukan pencarian menuju lokasi sekitar hilangnya kontak pesawat.

Pesawat PK-YRR akhirnya kembali dan mendarat di Sentani pukul 17.25 WIT tanpa hasil karena cuaca di daerah Abmisibil sudah gelap.

Pesawat nahas tersebut membawa 49 penumpang. Terdiri dari 44 dewasa, tiga anak-anak, dan dua bayi. Pesawat dipiloti Kapten Hasanudin, kopilot Ariadin F, mekanik Mario, serta pramugari Ika N dan Dita A.

Hilang kontak pesawat terjadi saat pesawat diperkirakan berada di sekitar Ambisibil-Bape. Di Bandara Oksibil tidak ada stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sehingga cuaca hanya bisa disampaikan berdasarkan laporan pandangan mata orang yang bertugas di menara bandara itu.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetyo, menyatakan pesawat Trigana Air yang hilang kontak sudah ditemukan di Kamp. 3, Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Informasi dari masyarakat menyatakan bahwa pesawat menabrak gunung Tangok di pegunungan Bintang," ujar Suprasetyo di gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Minggu (16/8/2015).

Kondisi topografi Papua yang banyak gunung dan lembah, memang menjadi faktor penyebab kerawanan penerbangan di bumi Cenderawasih itu. Sudah bukan rahasia lagi bagi para pilot bahwa menerbangkan pesawat di atas tanah Papua bukanlah perkara mudah. Apalagi bagi pesawat-pesawat yang menuju bandara-bandara di pedalaman alias perintis.

Butuh keberanian ekstra untuk melakukan penerbangan di Papua. Karena pilot hanya mengandalkan kompas, pemahaman kondisi sekitar, dan membaca tanda alam maupun cuaca. Apalagi, perubahan cuaca di Papua sulit diprediksi. John Brata, seorang pilot senior, menyatakan bahwa di Papua cuaca berubah amat cepat, dalam hitungan lima menit langit cerah bisa tertutup awan tebal.

Pada akhirnya hanya mengandalkan pandangan mata dan kehebatan sang pilot untuk membuat pesawat tetap terbang pada jalurnya.

"Pilot harus selalu waspada. Medan di Papua berbukit-bukit dan banyak pegunungan. Pilot harus hafal celah-celah gunung," ujar John dalam diskusi Bincang Pagi di Metro TV, Kamis (20/8/2015).

Demi mengatasi kondisi topografi yang sulit tersebut, pilot harus terbang dengan mengandalkan kemampuan visual. Karena instrumen data pendukung untuk navigasi yang minim.

John menjelaskan, faktor cuaca dan kurangnya sarana pendukung di pedalaman bisa berakibat fatal pada kecelakaan penerbangan. Bantuan navigasi darat di rute-rute perintis, seperti di Papua, boleh dibilang nol alias tidak ada.

Musibah yang menimpa pesawat Trigana Air di Papua ini, seakan membuka kesadaran masyarakat bahwa penerbangan perintis membutuhkan perhatian lebih banyak dari pemerintah. Pemerintah seakan memandang kegiatan penerbangan perintis seperti anak tiri dibanding penerbangan jalur non perintis.

Pemerintah diharapkan dapat lebih memperhatikan kondisi infrastruktur bandara-bandara perintis di pedalaman. Meskipun ada beberapa bandara yang bagus, tapi ada beberapa bandara di pedalaman yang harus banyak diperbaiki.
 
“Ini kan supaya menghubungkan tempat-tempat seperti Oksibil atau Ilaga, itu kan fasilitasnya sangat minim. Pemerintah mestinya membenahi fasilitas bandara-bandara itu, karena itu hak kami, paling tidak untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan,” ujar pilot penerbangan perintis Trigana Air, Kapten Alfons Lamba kepada Metrotvnews.com, Jumat (21/8/2015).

Sarana penerbangan dan transportasi bagi penduduk pedalaman memang merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyediakannya. Namun, negara seringkali tidak hadir buat mereka. Akhirnya swasta yang mengisi. Kehadiran perusahaan swasta dalam penerbangan perintis cukup besar.

Angkutan udara perintis adalah kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri yang melayani jaringan dan rute penerbangan untuk menghubungkan daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain dan secara komersial belum menguntungkan.

Dalam Pasal 104 Undang Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan disebutkan, angkutan udara perintis wajib diselenggarakan oleh Pemerintah dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga Nasional berdasarkan perjanjian dengan Pemerintah. Dalam penyelenggaraannya, pemerintah daerah wajib menyediakan lahan, prasarana angkutan udara, keselamatan dan keamanan penerbangan serta kompensasi lainnya. Sedangkan dalam pasal 105 UU Penerbangan disebutkan, angkutan udara perintis dapat dilakukan oleh pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga.

Dalam pasal 104 ayat 4 disebutkan, angkutan udara perintis dievaluasi oleh pemerintah setiap tahun. Hal ini berarti kontrak penyelenggaraan penerbangan perintis diberikan hanya dalam jangka satu tahun. Beberapa operator menyebutkan, bahwa untuk membuka penerbangan perintis, diperlukan investasi yang tak sedikit, khususnya untuk pengadaan pesawat.

Dana APBN dan APBD pun disediakan untuk tetap terselenggaranya sarana transportasi udara ini. Menurut Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay, tahun lalu saja Pemerintah mengeluarkan sampai satu triliun rupiah. Untuk mendapatkan subsidi tersebut pun ternyata tidak mudah, berbagai persyaratan pun ditetapkan pemerintah. Dalam realisasinya, tetap saja operator perintis banyak yang tidak konsisten melayani rute-rute tersebut karena sedikitnya jumlah penumpang. Subsidi diberikan berdasarkan tahun jamak, artinya lelang dilakukan dua kali dalam setahun, sehingga tidak ada bulan tidak mendapatkan subsidi karena proses administrasi.

Tidak semua provinsi memanfaatkan subisidi ini. Penyebabnya adalah besaran subsidi terlalu kecil dan tidak mempertimbangkan jauh dekatnya rute. Batasan syarat minimal untuk dapat memanfaatkan subsidi penerbangan perintis dari APBN, maskapai harus bisa mendapatkan sejumlah minimal penumpang. Misalnya di provinsi Kalteng, pemerintah menyiapkan subsidi Rp27,4 miliar untuk penerbangan tujuan Kabupaten Seruyan, Gunungmas, Barito Utara, Barito Selatan, Murungraya, Kotawaringin Barat dan Katingan. Subsidi itu berasal dari APBD provinsi dan kabupaten/kota Rp21 miliar dan APBN Rp6,4 miliar.

Gubernur Kalteng, Teras Narang, pernah mengatakan bahwa idealnya kontrak penerbangan perintis adalah minimum tiga tahun, mengingat rata-rata jangka pengembalian investasi (Pay Back Period) berada pada kisaran angka tersebut. Jika terlalu pendek, jelas operator akan dirugikan, karena investasi yang telah ditanamkan belum bisa kembali. Untuk itu, perpanjangan masa kontrak penerbangan perintis, hendaknya perlu dikaji kembali oleh pemerintah.

Penerbangan perintis di Indonesia tahun 2015 bertambah menjadi 217 rute, atau naik dibandingkan tahun lalu sebanyak 170 rute. Penambahan rute perintis dengan subsidi dari pemerintah dimaksudkan untuk meningkatkan koneksi antar daerah serta mendukung pengembangan ekonomi wilayahnya.

Kementerian Perhubungan menyebutkan, ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat di penerbangan perintis. Antara lain faktor manusia, faktor sarana, faktor prasarana dan faktor lain-lain.
 
Namun, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan, Julius Adravida Barata, lebih menekankan kepada faktor manusia sebagai penyebab utama kecelakaan pesawat di rute pedalaman. Sebab, untuk bisa menaklukkan rute perintis, dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni. Maka dari itu, rekrutmen SDM-nya untuk penerbangan perintis pun berbeda dengan penerbangan komersial.
 
“Untuk medan seperti itu dibutuhkan manusia yang mumpuni selain infrastruktur. Pengaturan penerbangnya, pilotnya, kemudian dari bandaranya, kemudian inilah semua, manusia juga infrastrukturnya,” kata Barata kepada Metrotvnews.com, Senin (24/8/2015).
 
Barata merincikan, faktor manusia meliputi kapasitas SDM yang bakal mengoperasikan penerbangan perintis. Sedangkan faktor sarana dan prasarana terangkum dalam aspek insfrastruktur. Yang terakhir, faktor lan-lain meliputi medan, kondisi alam dan cuaca.
 
Barata menegaskan, agar penerbangan perintis tetap aman, yang perlu ditekankan adalah pembenahan faktor manusia dan infrastrukturnya. Sebab, menurut Barata, faktor lain yang meliputi medan, kondisi lingkungan dan cuaca bukan lah faktor penyebab terjadinya kecelakaan pesawat perintis.
 
“Cuaca itu yang harus diperhitungkan, tapi bukan penyebab. Manusia harus memperhitungkan itu. Tidak boleh gegabah menghadapi itu, cuaca kan bisa diperhitungkan sebelumnya. Soal bagaimana menghadapinya kan mereka (SDM penerbangan perintis) disekolahkan untuk itu,” imbuh Barata.
 
Barata menyebutkan di tahun 2015 ini, pemerintah telah menganggarkan Rp442.093.745.113 untuk 217 rute perintis. Selain itu, dianggarkan juga sebesar Rp24.530.000.000 untuk subsidi BBM pesawat penerbangan perintis.
 
“Mereka (perusahaan pesawat perintis) kan pemenang lelang, dibayar sama pemerintah. Silahkan menyelenggrakan dengan tarifnya sekian, kekurangan sekian, jadi ditanggung pemerintah begitu. Tahun 2015 ini pada Jaringan Pelayanan Angkutan Perintis, ada 25 KPA (Kuasa Pengguna Anggaran),” ujar Barata.
 
Dengan anggaran dan besaran subsidi tersebut, Kemenhub menilai jumlahnya ideal. Alasannya, angka telah melalui penghitungan yang disesuaikan dengan jumlah rute. Namun, pemerintah tetap mengevaluasi dan tak menutup kemungkinan untuk melakukan penambahan pada anggaran tahun depan.
 
“Tahun depan kami lihat lagi pergerakannya bagaimana dan apa yang dibutuhkan. Rute-rute perintis kan ingin membuka daerah-daerah isolasi,” kata Barata.
 
Anggaran tersebut juga pastinya akan digunakan untuk pembenahan dan perbaikan infrastuktur di rute perintis. Namun, perbaikan itu akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan.
 
Barata juga menambahkan, tidak bisa dibandingkan antara rute komersial dengan rute perintis terkait manakah yang lebih berisiko kecelakaan. Sebab, masing-masing SDM dan pesawat kedua tipe penerbangan tersebut memiliki kualifikasi yang berbeda-beda.
 
“Tiap-tiap penyelenggaraan penerbangan kan sudah ada persyaratan sendiri-sendiri semuanya. Orang menerbangi rute perintis kan dengan keahlian sendiri, untuk penerbangan komersial juga punya sendiri. Pesawatnya pun beda. Dan perintis pesawatnya didesain untuk medan yang seperti itu, beda dan tidak bisa disamakan,” kata dia.
 
Namun, ia menambahkan, terkait kondisi bandara, kedua jenis rute penerbangan tersebut memiliki fasilitas yang berbeda. Rute komersial memiliki peralatan dan infrastuktur yang jauh lebih lengkap dibandingkan dengan rute perintis.


(ADM)