Politikus Gerindra: Logika Pemerintah Hapus Bahasa dari Syarat TKA, Terbalik

Surya Perkasa    •    Senin, 24 Aug 2015 22:48 WIB
tenaga kerjadpr ads
Politikus Gerindra: Logika Pemerintah Hapus Bahasa dari Syarat TKA, Terbalik
Ilustrasi. Tiga pekerja membersihkan kaca gedung bertingkat di Jakarta, Senin (24/8). Pemerintah menargetkan penyerapan tenaga kerja sebesar dua juta orang hingga 2016 dengan percepatan peningkatan kompetensi dan daya saing untuk berkompetisi dengan tenag

Metrotvnews.com, Jakarta: Politikus Gerindra Roberth Rouw menilai kebijakan pemerintah menghapus syarat wajib bahasa bagi tenaga kerja asing (TKA), aneh. Pasalnya, kata dia, aturan yang dibuat untuk mempermudah alih pengetahuan dan teknologi ke Indonesia justru dihilangkan.

"Logikanya terbalik. Kalau kita mau alih tekonologi, maka kita mesti pintar bahasanya mereka. Supaya bisa melakukan alih teknologi itu, harus bisa berbahasa Indonesia. Itu syaratnya," kata Roberth Rouw ketika dihubungi, Senin (24/8/2015).

Selain akan menghalangi alih teknologi, menurut dia, aturan ini juga akan membuat arus tenaga asing semakin sulit tersaring. Ini justru semakin akan memperburuk nasib tenaga kerja kerja lokal. Persaingan tak sehat bisa tercipta.

"Ya sudah pastilah persaingan tak sehat," kata Anggota Komisi IX DPR.

Dia mencuragai ada motif besar di balik perubahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) nomor 12/2013 menjadi Permenaker 16/2015. Salah satunya, lanjut dia, terkait alasan masuknya ratusan ribu tenaga kerja Tiongkok.

"Kalau kita lihat ke belakang, banyak sekali tenaga kerja dari Tiongkok masuk. Untuk melindungi mereka itu, dibuat payung hukumnya," kata Roberth.

Jika tidak dibuat aturannya, terang dia, ini akan menabrak UU 13 tahun 2003 tentang Ketanagakerjaan. UU Ketenagakerjaan telah mengatur TKA hanya bisa mengisi posisi tertentu dan dibatasi jumlahnya. TKA yang masuk pun harus memenuhi syarat yang diatur dalam Permenaker.

"Menurut saya, ini bukan dibuat tanpa ada alasan. Tapi karena ada alasan di belakangnya. Ada suatu agenda yang sudah jalan, harus dibuat dulu payungnya. Nah, payungnya dibuat sekarang," kata Roberth.


(OGI)