Membaca Gerak Rupiah di Jalur Perlambatan Ekonomi

Angga Bratadharma    •    Selasa, 25 Aug 2015 11:07 WIB
analisa ekonomi
Membaca Gerak Rupiah di Jalur Perlambatan Ekonomi
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kinerja perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu terus menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Ekonomi Tanah Air di 2015 terus berada di jalur melambat, lanjutan dari ketidakpastian ekonomi sejak pertengahan 2014 silam. Salah satu indikator penting yang menunjukkan performa ekonomi nasional mengalami kelesuan adalah pergerakan nilai tukar rupiah yang bergerak semakin melemah.

Menginjakkan kaki di awal 2015, kondisi ekonomi dunia terus memburuk, yang juga memukul laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank sentral Amerika Serikat (AS) yang berencana menaikkan suku bunga (Fed Fund Rate/FFR) yang saat ini 0,25 persen, pada September 2015 membuat dolar AS (USD) terus mengalami penguatan terhadap semua mata uang di dunia, termasuk menguat terhadap nilai tukar rupiah.

Pertumbuhan ekonomi dunia pada Januari 2015 mengalami revisi pertumbuhan, yakni dari 3,8 persen menjadi 3,5 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga mengalami penurunan, yakni dari sebelumnya 7,1 persen menjadi 6,8 persen untuk 2015. Revisi ini dilakukan sejalan dengan tidak kondusifnya perbaikan ekonomi di negara yang memiliki pengaruh besar terhadap bergeraknya ekonomi dunia.

Bagi Indonesia, pada kuartal II-2015, terpantau mulai terjadi capital outflow dari spekulator asing (investor portfolio/hot money) yang melakukan aksi jual di pasar modal Tanah Air. Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam dari level tertinggi 5.523 pada April 2015 menjadi ke 4.470 pada pertengahan Agustus 2015. Rupiah pun terkena imbas dengan bergerak ke level Rp14.000 per USD.

Pada dasarnya, banyak hal yang membuat nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan dari waktu ke waktu. Setidaknya ada dua faktor besar penyebab pelemahan nilai tukar rupiah, yakni datang dari faktor eksternal dan datang dari faktor internal. Butuh tenaga maksimal dari semua pihak, terutama pemerintah guna memberi asupan cukup bagi rupiah kembali perkasa di level fundamental.

Dari faktor eksternal, penyebab pelemahan rupiah adalah di pasar dunia, USD mengalami penguatan terhadap semua mata uang dunia dengan adanya perkiraan Fed Fund Rate yang diperkirakan akan dinaikkan pada semester II-2015 atau tepatnya di September 2015.

Selain itu, People Bank of China mendevaluasi China yuan 1,9 persen pada 11 Agustus 2015 membuat pelemahan yuan terbesar dalam 20 tahun terakhir. Dalam hal ini, Tiongkok menggunakan sistem fixed rate dengan dua persen band dari kurs tengah setiap harinya. Secara praktiknya, mekanisme ini seperti manage floating.

Faktor eksternal lainnya yang menyebabkan rupiah melemah juga berasal dari berita devaluasi China Yuan yang mengguncang pasar dunia. Selain itu, juga berasal dari kekhawatiran akan adanya currency war atau perang mata uang.

Sementara itu, penyebab pelemahan rupiah yang berasal dari faktor internal yakni, neraca transaksi berjalan mengalami defisit. Walaupun neraca perdagangan mulai positif di 2015 namun hal itu terjadi bukan karena meningkatnya ekspor tetapi karena penurunan impor yang lebih besar dari turunnya ekspor.

Selain itu, pelemahan dari faktor internal juga dikarenakan pembelian USD untuk pembayaran utang valas, capital outflow dari investor asing yang melakukan net selling di pasar modal, dan besarnya permintaan dolar tidak diimbangi oleh penawarannya karena Devisa Hasil Ekspor (DHE) tidak sepenuhnya ditempatkan di perbankan dalam negeri. 

Kemudian, juga disebabkan oleh banyaknya transaksi di dalam negeri yang tidak ada hubungannya dengan luar negeri menggunakan USD, dan persepsi pelaku pasar keuangan yang tidak positif terhadap pemerintah dan prospek ekonomi Indoensia.

Lebih dari itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga dihantui oleh pesatnya pertumbuhan utang swasta yang menimbulkan risiko tersendiri. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pada 2010 utang swasta berada di posisi USD84 miliar. Namun, angka tersebut mengalami pertumbuhan signifikan dan pada Januari 2015 berada di posisi USD169 miliar.

Tidak hanya itu, nilai tukar rupiah juga dibayang-bayangi oleh cadangan devisa yang terus mengalami penurunan. Hal ini tentu mengkhawatirkan mengingat cadangan devisa sering digunakan BI sebagai instrumen intervensi agar nilai tukar rupiah tidak terus menerus mengalami tekanan, bahkan jauh dari posisi fundamentalnya.

Menurut data BI, cadangan devisa Indonesia sampai dengan Agustus 2015 berada di posisi USD107 miliar, atau terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu yang merupakan dampak dari kebijakan BI menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terjun bebas.

Sayangnya, meski rupiah dibutuhkan tetapi rupiah masih belum dicintai. Sampai saat ini, masih banyak pihak yang lebih suka bertransaksi dengan USD, meski tidak dengan pihak asing sebagai mitra dagangnya. Bahkan, di pelabuhan atau bandar udara domestik transaksi uang asing justru masih marak terajadi. Tak hanya itu, perusahaan swasta, BUMN, dan sektor ritel masih banyak yang menggunakan USD dalam transaksi mereka.

Kesadaran untuk lebih menggunakan rupiah menjadi penting untuk dilaksanakan semua pihak. Hal ini akan memiliki pengaruh tersendiri yang besar untuk mencegah terjadinya kejatuhan rupiah jauh lebih dalam. Setidaknya, ini demi menghindari terjadinya dolarisasi yang semakin masif.

Pada pandangan tertentu, dampak dari gejolak nilai tukar rupiah yakni pertama dunia usaha yang mempunyai eksposur valas sedang dilanda ketidakpastian, bahkan mengalami kerugian. Kedua, industri yang menggunakan bahan baku impor terganggu produksi dan penjualannya.

Ketiga, inflasi akan meningkat akibat imported inflation karena meningkatnya harga barang yang ada kandungan impornya. Keempat, beban pinjaman valas pemerintah dan swasta dalam rupiah nilainya mengalami pembengkakan.

Kelima, perbankan sedang menghadapi tekanan berat akibat potensi meningkatnya kredit macet dalam valas maupun rupiah. Keenam, apabila rupiah jatuh lebih dalam menembus level Rp15 ribu per USD bisa menimbulkan potensi guncangan bagi perekonomian di Indonesia.

Dengan dasar itu, pemerintah dan pihak terkait perlu menyingsingkan lengan baju dan bahu membahu untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Berbagai macam kebijakan dan implementasi nyata serta koordinasi mumpuni penting agar rupiah tidak lagi di jalur perlambatan tapi kembali menunjukkan taring tajamnya untuk memperlihatkan siapa tuan rumah di negeri sendiri.

Karenanya, beberapa kebijakan perlu dilakukan seperti pengendalian investasi asing di portfolio, memonitor dan mengatur ketat pinjaman valuta asing swasta dan menerapkan keharusan untuk melakukan hedging, dan memperdalam pasar valuta asing beserta instrumen hedging-nya.

Selain itu, kebijakan lain yang perlu dijalankan adalah menjalankan dengan sungguh-sungguh kewajiban penggunaan rupiah di wilayah NKRI, mewajibkan DHE bertahan di perbankan dalam negeri, menurunkan BI rate, dan menerapkan batas maksimal suku bunga kredit.


(ABD)