Derita Merpati Kala Tinggalkan Rute Perintis

Suci Sedya Utami, Hardiat Dani Satria    •    Selasa, 25 Aug 2015 12:46 WIB
penerbangan
Derita Merpati Kala Tinggalkan Rute Perintis
Pesawat Merpati Nusantara Airlines. (foto: MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Penerbangan Dudi Sudibyo menilai transportasi udara tetap menjadi sarana transportasi prioritas di Indonesia, mengingat wilayah negara ini berjajar pulau-pulau dari Sabang hingga Merauke. Sebab, tidak ada sarana transportasi lain yang bisa menghubungkan antar pulau dalam waktu cepat kecuali lewat udara.
 
“Jelas transportasi udara adalah prioritas nomor satu, baru setelah angkutan laut dan selanjutnya angkutan darat,” ujar Dudi kepada Metrotvnews.com, Kamis (20/8/2015).
 
Maka dari itu, menurut Dudi, transportasi udara nasional perlu dikembangkan baik dari segi infrastruktur maupun manajemennya. Berkembangnya transportasi udara akan berbanding lurus dengan upaya penyatuan negara.
 
“Kalau transportasi udara itu nomor satu, mau bagaimanapun juga negara maritim itu perlu untuk bisa menjangkau koneksi antara Jakarta dengan semuanya kota di Indonesia. Cara satu-satunya dengan udara,” imbuh Dudi.
 
Setelah menguatkan transportasi udara, pemerintah juga perlu menyatukan ketiga jalur transportasi yang ada. Sebab, sampai saat ini belum terlihat koneksi antara transportasi udara, laut dan darat.
 
Namun, menurut Dudi, selama ini pemerintah terkesan ogah-ogahan dalam membangun kekuatan jalur angkutan udara. Adalah tugas negara menyiapkan sarana penerbangan dan transportasi bagi penduduk pedalaman. Kenyataannya, negara seringkali tidak hadir buat mereka. Akhirnya swasta yang mengisi. Kehadiran perusahaan swasta dalam penerbangan perintis cukup besar.

Angkutan udara perintis adalah kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri yang melayani jaringan dan rute penerbangan untuk menghubungkan daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain dan secara komersial belum menguntungkan.

Kondisi ini terlihat pada saat PT Merpati Nusantara Airlines, salah satu badan usaha milik negara di sektor penerbangan, meninggalkan pelayanan rute perintis. Padahal, Merpati sebelumnya berjaya mempelopori kegiatan angkutan udara untuk rute pedalaman nusantara. Penerbangan perintis seharusnya bisa menjadi andalan dalam menyatukan negara maritim.
 
“Penerbangan perintis ini kan sudah dibangun oleh Merpati sejak lama. Saya sayangkan Merpati jadi seperti airlines-airlines lain juga, yang mengejar surplus pada penerbangan jarak-jarak jauh,” kata Dudi.
 
Ia menjelaskan, Merpati sepenuhnya telah mendapatkan subsidi dari pemerintah. Artinya, mestinya Merpati tak perlu mencari keuntungan bisnis. Karena, tugasnya memang melayani rute ke daerah terpencil.

Kini Merpati terancam bangkrut dan tidak dapat terbang sejak Januari tahun 2014. Alasannya, kendala operasional lantaran akibat membengkaknya utang perusahaan. Sebanyak 19 rute Merpati di udara Indonesia bagian timur terpaksa ditawarkan ke sesama maskapai nasional lainnya. Karyawan terkatung-katung tak jelas nasibnya. Maka, praktis kini penerbangan perintis jadi garapan perusahaan swasta

Dudi amat menyesalkan peran yang diamanatkan kepada Merpati itu sejak didirikannya pada tahun 1962 menjadi hilang lantaran masalah utang yang diciptakan manajemen perusahaan.
 
Saat ini kondisi penerbangan perintis yang digarap swasta pun kurang mendapat perhatian pemerintan, justru menjadi anak tiri dibanding penerbangan jalur non-perintis.

Ia menyebut salah satu buktinya adalah rute tujuan Papua, dari segi infrastruktur penerbangan sampai manajemen maskapai, masih banyak kekurangan. Aspek-aspek penunjang penerbangan perintis tersebut juga banyak yang tidak terurus.
 
“Kalau mau penerbangan perintis disana tentu harus diikuti dengan peningkatan fasilitas yang ada. Karena fasilitas serba kekurangan disana,” kata Dudi.

Coorporate Secretary PT Merpati Nusantara Airlines, Riswanto, menyatakan bahwa pemerintah sebenarnya masih mampu menyelamatkan masapai ini dari kebangkrutan jika pelayanan rute penerbangan ke pelosok negeri ini tak sepenuhnya diberikan ke pihak swasta.
 
Riswanto setuju bahwa Merpati seharusnya tak meninggalkan rute perintis. Sebab, di ceruk pasar itulah Merpati telah mempunyai konsumen yang setia. Oleh karena itu, jika ingin kembali berjaya, Merpati mesti kembali ke habitat aslinya untuk melayani jalur-jalur penerbangan kecil. Bukannya bersaing dengan maskapai komersial besar lainnya menggarap penerbangan berpenumpang banyak.

“Ini memang panggilan tugas Merpati untuk memfasilitasi penerbangan perintis. Ini sudah menjadi bukti pengabdian kami. Jadi kalau kita kaitkan dengan beberapa Nawacita, ya kami sebagai agen pembangunan yang menghubungkan titik-titik di pelosok Indonesia, untuk menghubungkan satu titik dengan titik yang lain,” kata Riswanto kepada Metrotvnews.com, Sabtu (22/8/2015).
 
Menurut Riswanto, perusahaan penerbangan nasional perintis seperti Merpati sudah seharusnya tidak berorientasi bisnis. Hal ini dikarenakan selama ini sebagian besar saham Merpati adalah milik pemerintah.
 
Selain itu, penerbangan perintis bukan hanya sekedar alat penghubung di daerah terpencil. Melainkan, mereka memiliki fungsi fundamental sebagai alat stabilitas ekonomi untuk pertumbuhan pembangunan di pedalaman.
 
Meskipun memiliki fungsi yang sangat besar, perusahaan penerbangan perintis pasti akan menemui hambatan dalam operasionalnya. Hambatan-hambatan tersebut antara lain seperti faktor medan, cuaca dan kondisi lingkungan sekitar yang ekstrem.
 
Maka dari itu, hanya perusahaan yang mempunyai pengalaman terbaik lah yang bisa bertahan di rute penerbangan perintis. Tidak hanya itu, penerbang di wilayah perintis yang penuh keterbatasan, juga harus memiliki kemampuan lebih dibandingkan lainnya.
 
“Kami sudah mengerti untuk menerbangi dan berpengalaman di rute-rute perintis itu,” imbuh Riswanto.
 
PT ASI Pujiastuti Aviation, perusahaan pengelola maskapai penerbangan Susi Air, menilai bahwa swasta perlu membantu pemerintah dalam membuka jalur angkutan ke pedalaman. Pembukaan transportasi di daerah terpencil akan membuka akses masyarakat secara lebih luas.
 
“Itu membuka keterisolasian daerah terpencil, untuk menghubungkan ke kota yang besar, sebagai pembuka transportasi,” ujar Business Commercial and Legal Manager Susi Air, Irvino Samuel Moniaga kepada Metrotvnews.com, Jumat (21/8/2015).
 
Untuk subsidi, Irvino menjelaskan, 80 persen dari total biaya operasional berasal dari pemerintah. “Sisanya sinergi penumpang. Jadi kalau tidak ada (penerbangan), artinya tidak ada subsidi dari cost,” kata Irvino.

Namun, ia melanjutkan, saat ini komponen subsidi itu pun sudah banyak berubah.
 
Dalam bisnis penerbangan perintis ini, Irvino menyebutkan beberapa perusahaan memang mendapat keuntungan yang jelas.
 
“Keuntungannya itu jelas ada, karena kita satu-satunya transportasi ke daerah terpencil. Mau enggak mau ya kan penumpang harus naik pesawat kita. Kita hanya membantu pemerintah,” kata Irvino.
 

 


(ADM)