Catatan Kejuaraan Dunia Atletik 2015

Raja dan Ratu Sprint Masih Dominasi Jamaika

Rizki Yanuardi    •    Selasa, 25 Aug 2015 17:41 WIB
atletik
Raja dan Ratu Sprint Masih Dominasi Jamaika
Usain Bolt (Hiaju kuning) (Foto: AFP)

Dominasi Jamaika, negara Karibia, di cabang lari jarak pendek Kejuaraan Dunia Atletik belum juga terpatahkan. Pun di ajang Internasional Association of Athletics Federations (IAAF) World Championship 2015 atau Kejuaran Dunia Atletik yang kini dihelat di Beijing, Tiongkok, sejak 22 Agustus lalu.

Sprinter putra dan putri negara asal penyanyi reggae Bob Marley ini masih terlalu tangguh buat lawan-lawannya. Termasuk Amerika Serikat, yang satu dekade sebelumnya masih merajai nomor-nomor lari jarak pendek (100m, 200m, 400m, dan estafet 4x100m).

Di nomor final 100 meter putra, Ahad 23 Agustus malam, Usain Bolt, pemegang rekor dunia lari 100 meter dengan catatan waktu 9.58 detik yang sudah bertahan tiga tahun, kembali menjadi yang terbaik di Beijing National Stadium. 

Meski tidak memecahkan rekor dunia miliknya, Usain Bolt tetap mencatatkan waktu impresif, sekaligus mempertahankan gelar juara dunia yang diraih dua tahun sebelumnya dengan catatan waktu 9.79 detik, hanya selisih 0.01 detik dari saingan terberatnya, sprinter Amerika Serikat, Justin Galtin. 

Ya, Usain Bolt atau Jamaika harus berhati-hati jika ingin supremasi dunia mereka ingin bertahan di nomor-nomor lari jarak pendek. Karena di beberapa kesempatan, Justin Galtin sempat mengalahkan Usain Bolt. 

Sementara itu, di final bagian putri yang digelar, Senin 24 Agustus 2015 malam waktu setempat, Shelly Ann Fraser Pryce, asal Jamaika kembali menorehkan prestasi gemilang usai menjadi yang tercepat di nomor lari 100 meter putri.

Di final, Shelly sukses mencatakan waktu 10.76 detik, unggul atas Dafne Schippers asal Belanda yang mencatat waktu 10.81 detik. Sedangkan perunggu di kejuaraan dunia kali ini menjadi milik atlet Amerika Serikat Tori Bowie dengan catatan 10.86 detik.

Dominasi Usain Bolt dan Shelly di nomor bergengsi cabang atletik ini tak terbantahkan sekaligus menasbihkan Jamaika sebagai negara penghasil sprinter-sprinter hebat dunia dalam satu dekade terakhir. 

Selain menjadi peraih medali emas di dua olimpiade terakhir, Shelly menjadi yang terbaik di tiga kejuaraan dunia (2009, 2013 dan 2015). Gelar juara dunia hanya terlepas saat kejuaraan dunia digelar di Daegu, Korea Selatan tahun 2011 silam. 

Catatan prestasi Usain Bolt memang lebih mentereng dibanding kompatriotnya di bagian putri. Selain menyumbang enam medali emas di dua olimpiade terakhir (Beijing 2008 dan London 2012), Bolt juga terbaik di Kejuaraan Dunia 2009, 2013 dan 2015. Meski gagal di 100 meter akibat didiskualifikasi di Kejuaraan Dunia 2011 di Daegu, Korea Selatan, Bolt masih menyumbang emas di nomor 200m dan estafet 4x100m.

Kenapa lebih hebat? Bolt adalah pemegang rekor dunia di nomor 100m, dan sudah tiga kali memperbaiki catatan waktunya itu. Pertama kali, Bolt memecahkan rekor 9.74 detik milik Asafa Powell (Jamaika) menjadi 9.72 detik di New York City, 31 Mei 2008.

Bolt kembali mempertajam waktunya menjadi 9.69 detik di Olimpiade Beijing 2008, tepatnya pada 16 Agustus 2008. Raja Sprint berpostur 196 centimeter itu kembali mencatatkan diri sebagai yang tercepat di dunia saat Kejuaraan Dunia Atletik digelar di Berlin, Jerman, tahun 2009 silam. Pria kelahiran 21 Agustus 1986 itu mencatat waktu 9.58 detik, dan hingga kini masih bertahan.

Sementara itu, di bagian putri catatan rekor dunia di nomor 100 meter masih menjadi milik sprinter Amerika Serikat Florence Griffith Joyner yang dicatatkan di Olimpiade Seoul 1988. Flo Jo, begitu sapaan akrabnya, menorehkan waktu 10.49 detik dan hingga kini sudah bertahan 27 tahun.

Tragisnya, pemegang rekor dunia terlama itu meninggal akibat epilepsi parah di tahun 1998. Ya, ratu sprint Amerika itu adalah ratu di nomor sprint 100m, 200m dan 4x100m. Flo Jo juga menjadi pemegang rekor nomor 200m dengan catatan waktu 21.34 detik. 

Sejak era Flo Jo, sejumlah nama sprinter wanita seperti Marlene Ottey hingga Shelly Ann Fraser Prycedi belum mampu memecahkan rekor Flo Jo. Seandainya Shelly Ann Fraser Pryce bisa memecahkan torehan waktu 10.49 di Beijing, kemarin, mungkin saja Flo Jo akan tersenyum dalam tidur panjangnya.


(RIZ)