Ini Beda Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun

Husen Miftahudin    •    Selasa, 25 Aug 2015 18:26 WIB
bpjs ketenagakerjaan
Ini Beda Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun
Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan. FOTO/Wahyu Putro A

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mengeluarkan program jaminan sosial barunya, yakni Jaminan Pensiun (JP). Sebelumnya, BPJS Ketenagakerjaan juga telah memiliki tiga program jaminan sosialnya seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), dan Jaminan Hari Tua (JHT) yang merupakan lanjutan dari program Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja (Jamsostek).

Sekilas, memang JP dan JHT memiliki kemiripan, namun dua program BPJS Ketenagakerjaan ini jelas berbeda. Aktuaris BPJS Ketenagakerjaan, Pramudya menjelaskan, JHT dibayarkan sekaligus saat masuk usia pensiun, meninggal dunia, atau cacat total tetap.

"Manfaatnya berasal dari akumulasi iuran ditambah hasil pengembangan. Mekanisme penyelenggarannya dengan tabungan wajib dengan bentuk programnya berupa tabungan, dan resiko hidup peserta ditanggung peserta itu sendiri," ungkap Pramudya ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jalan HR Rasuna Said No 2-3, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2015).

Sedangkan untuk JP, lanjut dia, dibayarkan setiap bulan saat masuk pensiun, meninggal dunia, atau cacat total tetap dengan besar manfaat dihitung dari formula tertentu berdasarkan masa iuran upah. Mekanisme penyalurannya berupa asuransi sosial dengan bentuk programnya berupa manfaat pasti, dan risiko harapan hidup peserta ditanggung bersama secara kolektif oleh peserta.

"Iuran JHT sebesar 5,7 persen sebulan yang terdiri dari dua persen yang dibayarkan pekerja dan 3,7 persen oleh pemberi kerja. Sedangkan iuran JP sebesar tiga persen dari upah sebulan dengan rincian dua persen pemberi kerja dan satu persen dibayar oleh pekerja," paparnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 tahun 2015, jelas Pramudya, usia pensiun untuk mendapatkan JP ini ditetapkan 56 tahun. Namun mulai 1 Januari 2019, usia pensiun menjadi 57 tahun, selanjutnya selama tiga tahun berikutnya usia pensiun bertambah satu tahun hingga mencapai usia maksimal pensiun 65 tahun.

"Kalau pesertanya meninggal dunia dan meninggalkan janda atau duda, manfaat pensiun bulanan akan diterima pasangannya selama janda atau duda peserta BPJS Ketenagakerjaan belum menikah lagi. Besaran manfaat yang diterima adalah 50 persen dari dana pensiun yang diterima peserta. Kalau janda atau dudanya punya anak di bawah usia 23 tahun dan belum menikah atau bekerja, maka anak itu akan menerima manfaatnya dengan besaran 50 persen dari yang diterima janda atau duda peserta BPJS Ketenagakerjaan," pungkas Pramudya.


(AHL)

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

5 hours Ago

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) berpendapat hilangnya sejumlah nama politisi yang seb…

BERITA LAINNYA