Ogah Rugi Kala Dolar Tinggi, Perajin Tempe Kurangi Produksi

Bambang Mujiono    •    Rabu, 26 Aug 2015 11:23 WIB
rupiah melemah
<i>Ogah</i> Rugi Kala Dolar Tinggi, Perajin Tempe Kurangi Produksi
Perajin tempe di desa Debong Tengah, Kota Tegal, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com/Bambang Mujiono)

Metrotvnews.com, Tegal: Kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya rupiah membuat perajin tempe kelimpungan. Tak sedikit perajin memilih berhenti produksi, sebagian lainnya memperbanyak campuran bahan pembuatan tempe.

Kondisi ini dialami perajin tempe di Desa Debong Tengah, Kota Tegal, Jawa Tengah. Mereka memilih beristirahat ketimbang berproduksi untuk merugi. Perajin menunggu harga kedelai kembali stabil.

“Yang masih bertahan hanya membuat sedikit. Itupun dengan campuran ampas tahu dan bahan lain yang lebih banyak ketimbang kedelainya agar tetap memperoleh untung,” ucap Darnawi, 58, perajin tempe di Desa Debong Tengah, Kota Tegal kepada Metrotvnews.com, Rabu (26/8/2015).

Sementara menurut Syaiful, produsen sekaligus pedagang tempe di Tegal, harga kedelai sebelumnya berkisar Rp6.700 per kilogram. Namun, sejak Selasa (25/8) melonjak menjadi Rp10 ribu per kilogram.

"Dengan harga kedelai yang terus naik, kami tidak bisa membayar karyawan pembuat tempe. Sehingga produksi kami lakukan sendiri, demikian halnya penjualan kami lakukan sendiri. Jika sebelumnya kami memproduksi 5-10 kwintal per hari. Kini hanya 1-2 kwintal per hari,” tutur Syaiful.

Hampir 80 persen penduduk desa Debong Tengah berprofesi sebagai perajin tempe. Namun, kini para perajin tempe mengatakan terus naiknya harga kedelai membuat mereka sulit mempertahankan usaha. Mereka harus menambah modal untuk menebus kedelai. Di sisi lain, perajin belum berani menaikkan harga jual tempe.

“Jadi, bagi mereka yang bertahan ya mengakalinya dengan cara memperbanyak campuran bahan lain selain kedelai. Tentu saja kualitasnya buruk, namun bagaimana lagi, hanya itu cara satu-satunya,” ucap Tohirin, 37, perajin tempe lainnya di desa yang sama.


(SAN)