Mengaku Ditipu Fathanah, Direktur PT Indoguna Berharap Dibebaskan

   •    Rabu, 19 Jun 2013 20:24 WIB
Mengaku Ditipu Fathanah, Direktur PT Indoguna Berharap Dibebaskan
MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Dua direktur PT Indoguna Utama, Arya Abdi Effendy dan Juard Effendi, yang menjadi terdakwa dalam perkara suap penambahan kuota impor daging sapi berharap majelis hakim menyatakan tidak bersalah. Bagi mereka, pihaknya hanya ditipu oleh Ahmad Fathanah dan Elda Devianne Adiningrat.

Arya mengaku dua kali bertemu dengan Fathanah. Pertama adalah 28 Januari 2013 di Restoran Angus Steak House, Senayan City. Bersama ibunya Maria Elizabeth Liman, dia bertemu Fathanah yang saat itu mengajukan permohonan bantuan sumbangan untuk kegiatan perjalanan safari dakwah, kegiatan kemanusiaan di Papua dan NTT, serta untuk kegiatan seminar sejumlah Rp1 miliar.

"Akhirnya kami setujui karena untuk kegiatan sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan kami," klaimnya dalam sidang pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (19/6).

Pertemuan berikutnya adalah pada 29 Januari 2013 di Kantor PT Indoguna. Merealisasikan permohonan sumbangan, perusahaannya memberikan Rp1 miliar. Uang itulah yang tertangkap tangan saat penyidik KPK menahan Fathanah.

Dia membantah tuntutan jaksa yang menyatakan dia bersama Juard telah melakukan korupsi dalam upaya penambahan kuota impor daging sapi. Arya menekankan, uang itu ditujukan untuk kegiatan sosial.

Hanya saja, Arya yang menjabat Direktur Operasi PT Indoguna, tidak membantah adanya pemberian Rp300 juta kepada Elda melalui anak buahnya, Jerry Roger Kumontoy.

"Uang tersebut diminta Elda sebagai uang operasional atau bensin, karena menganggap sudah bekerja 2-3 bulan untuk membantu PT Indoguna dalam pengurusan pengajuan permohonan penambahan kuota impor daging sapi," sebutnya.

Menurut Juard dalam pleidoinya, dia pernah berusaha mengingatkan Direktur Utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman agar menolak rayuan Elda terkait permohonan penambahan kuota.

Sebab, berdasarkan proses Surat Rekomendasi Persetujuan Pemasukan (SRPP) di Kementerian Pertanian, dia tahu saat itu tidak ada penambahan kuota impor daging sapi semester II tahun 2012.

Disetujui atau tidaknya permohonan tersebut tergantung dari rapat Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Koordinator Perekonomian. Anehnya meski sudah tahu, dia pun setuju mencoba melakukan permohonan penambahan kuota melalui Elda. "Untuk membuktikan perkataan Elda Devianne apakah benar atau tidak," kilahnya.

Berkali-kali ditolak permohonannya, toh perusahaan tetap terus meminta bantuan Elda. Lalu untuk 2013, dia berkomunikasi dengan Jerry, bawahan Elda yang mengatakan agar mengajukan penambahan sebanyak 8 ribu ton. "Dengan mengatakan 'Uban' (Hatta Rajasa) telah menyetujui tambahan kuota impor sebesar 20 ribu ton," kata Juard mengulangi penjelasan Jerry tentang peluangnya di 2013.

Tidak pernah ada tindak lanjut dari upaya mereka meminta penambahan kuota, karena itu dirinya pun yakin sudah ditipu oleh Elda yang bekerja sama dengan Fathanah. Sementara itu, lantaran semua uang yang digelontorkan perusahaannya tidak terbukti diberikan untuk kepentingan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq yang kala itu berkedudukan sebagai anggota Komisi I DPR RI , dia berharap dibebaskan tudingan korupsi.

"Sungguh sangat kejamnya dunia usaha dan dunia hukum di negara Republik Indonesia yang tercinta ini yang telah mencampuradukkan antara profesi pengusaha dan politik," ujarnya.

Dia menegaskan dirinya, ibu, dan pamannya, hanyalah pengusaha, bukan politikus. Dia juga berharap kasusnya tidak dipolitisasi. "Saya hanya memberikan bantuan sumbangan kemanusiaan kepada Ahmad Fathanah dan membayar jasa Elda."

Sebagai catatan, jaksa menuntut Arya dan Juard dengan pidana penjara 4,5 tahun. Mereka juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp200 juta subsidair 4 bulan kurungan. (Hera Khaerani)


ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

4 hours Ago

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) berpendapat hilangnya sejumlah nama politisi yang seb…

BERITA LAINNYA