Sidang Perdana Cebongan, Berkas Lima Pelaku masih Misteri

- 19 Juni 2013 23:50 wib
Metrotvnews/bb
Metrotvnews/bb

Metrotvnews.com, Jakarta: Sidang perdana kasus Cebongan akan digelar, Kamis (20/6) besok. Berdasarkan informasi, tujuh orang terdakwa yang terdiri dari anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan, perkaranya dibuat dalam empat berkas terpisah. Terkait rencana itu, KontraS berharap kelak bisa menjadi terang peranan dari masing-masing terdakwa yang disidangkan.

Dalam pernyataan resminya, Haris Azhar, Koordinator badan pekerja KontraS menyatakan bahwa masih perlu dipertanyakan kenapa hanya tujuh orang yang siap disidang. Padahal sebelumnya ada 12 nama anggota Kopassus Grup II yang disebut terlibat. Dengan demikian masih ada lima lainnya yang belum diketahui kapan berkasnya rampung. Mengingat proses pemeriksaan yang tertutup, dia pun menekankan pentingnya mempertanyakan hal ini. "Apa peran dari yang lima belum masuk persidangan," tanya Haris.

Selain itu pemberkasan dan pemeriksaan yang dilakukan secara terpisah, juga dikhawatrikannya bisa membuat gambaran kasus Cebongan Maret 2013 menjadi tidak utuh. "Penting diingat bahwa dalam catatan KontraS, penyerangan dilakukan dengan pembagian tugas, membunuh empat tahanan dan perusakan fasilitas LP Cebongan disaat bersamaan, keduanya merupakan satu kesatuan dalam upaya pembunuhan empat tahanan," jelas Haris menunjukkan keterkaitan semuanya.

Dengan adanya pembagian tugas tersebut, seharusnya bisa menjadi bukti bahwa memang terjadi tindakan yang terencana. Selain itu, unsur terencana juga terlihat pada pengetahuan sejumlah pihak, seperti Kapolda dan petinggi militer setempat (Yogyakarta) yang gagal mencegah tragedi tersebut. Hal tersebut menurutnya terbukti dengan adanya SMS (Short Message Service) yang beredar diantara polisi hingga sampai ke salah satu korban, sebelum eksekusi terjadi pada 23 Maret 2013 dini hari.

Lalu unsur kesengajaan lainnya juga terlihat dari kesengajaan untuk menyerahkan 4 tahanan ke LP kelas II Cebongan oleh Polisi. Dengan langkah itu, ada kesan bahwa memang para tahanan sengaja ditempatkan di luar kantor milik Polri/Polda Yogyakarta. Haris menegaskan, "Unsur ini patutnya diakomodir dalam pendakwaan."

Di luar konteks pengadilan, KontraS berharap agar Mahkamah Agung memegang kendali penuh atas pengadilan kasus Cebongan. Kendati mekanisme pengadilan umum atau pengadilan HAM gagal diberlakukan, pihaknya berharap optimalisasi untuk memenuhi keadilan bagi keluarga korban dan masyarakat dijaga.

"Kami meminta agar Mahkamah Agung bisa berperan memastikan agar keterbukaan terlaksana, intimidasi bisa hilangkan. Dalam pengalaman KontraS, persidangan-persidangan dimana anggota militer diduga  melakukan pelanggaran HAM yang berat selalu dipenuhi oleh pengunjung berseragam dan berbaret," katanya.

Dia mengambil contoh kasus pemeriksaan Sriyanto saat menjadi Danjem Kopassus diperiksa pengadilan HAM atas kasus Tanjung Priok 1984. Karena itu, MA pun diminta agar memastikan polisi dan polisi militer memenuhi akses dan keamanan publik terjaga dalam pemantauan dan pemberitaan atas persidangan tersebut.

Sebagai catatan, Mahkamah Militer II-11 Yogyakarta menginformasikan bahwa ketujuh terdakwa dijerat pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan pasal 338 tentang pembunuhan. Mereka juga dikenai pasal 103 (1) dan (3) KIHPMiliter tentang Pembangkangan Perintah Dinas, pasal 170 (1) KUHP tentang tindak kekerasan yang mengakibatkan korban pada seseorang dan barang. Selain itu, mereka juga dikenai pasal turut serta dalam tindakan pidana yang terdapat dalam KUHP pasal 55 (1) dan (2) dan 56 (2).

Terkait dengan penggunaan pasal 340 KUHP yang ancaman hukumannya adalah pidana mati, KontraS berharap Oditur Militer tidak menggunakan ancaman tersebut. "Mengingat bahwa hukuman mati merupakan pelanggaran hak untuk hidup, hal ini merupakan penghukuman yang berlebih jika diterapkan," kata Haris. Dia menerangkan bahwa dalam pasal tersebut bisa diberlakukan penghukuman penjara seumur hidup atau 20 tahun. (Hera Khaerani)

()

Menurut Suharso, Suryadharma Ali membangun asumsi sendiri seolah-olah langkah dia dengan sejumlah DPW…