Jurus Berkelit Calon Pimpinan KPK

   •    Kamis, 27 Aug 2015 06:02 WIB
Jurus Berkelit Calon Pimpinan KPK

JURUS ampuh yang bersifat konvensional untuk berkelit ialah lupa, tidak ingat, dan tidak tahu. Kini hadir lagi satu senjata ampuh, paling ampuh, untuk berkelit, yaitu tersenyum dan tertawa. Biasanya, jurus konvensional dipakai terdakwa korupsi di pengadilan untuk menghindari jeratan hukum. Akan tetapi, fakta persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi memperlihatkan hampir tidak ada terdakwa yang bebas dari jeratan hukum sekalipun beribu kali menggunakan jurus berkelit konvensional.

Sebaliknya, jurus berkelit tersenyum dan tertawa itu justru diperkenalkan calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Harus tegas dikatakan bahwa tekad bangsa ini untuk memberantas korupsi berada di ambang gawat darurat. Koruptor dan calon pembasmi koruptor ternyata sama-sama punya jurus berkelit.

Selama tiga hari sejak Senin (24/8), Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan KPK menggelar seleksi wawancara terbuka. Satu per satu, 19 calon pemimpin KPK berhadapan dengan sembilan anggota pansel. Mereka didalami, antara lain, tentang kekayaan dan motivasi. Sayangnya, tidak sedikit dari para calon pemimpin KPK yang berusaha berkelit, termasuk menggunakan jurus tersenyum dan tertawa.

Jurus tersenyum itu dipakai Jimly Asshiddiqie saat menjawab pertanyaan anggota pansel, Enny Nurbaningsih. Enny mempersoalkan pengunduran diri Jimly setelah kalah bertarung merebut posisi Ketua Mahkamah Konstitusi. Enny khawatir Jimly akan mundur di tengah jalan hanya karena tidak mendapat posisi Ketua KPK.

Jawaban Jimly sungguh di luar dugaan. Jimly, saat ini masih menjabat Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, malah meminta para panelis tidak mengungkit perihal pengunduran dirinya dari MK. Alasan Jimly, dirinya akan menjelaskan hal itu saat menjalani proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR.

Kita harus acungkan empat jempol atas kepercayaan diri Jimly yang luar biasa. Ia sangat percaya bahwa dirinya akan masuk delapan nama yang diloloskan ke Senayan. Sesuai dengan ketentuan, dari 19 nama yang masih bertahan, pansel yang dipimpin Destry Damayanti akan memilih paling tidak delapan calon pemimpin KPK untuk diserahkan Presiden Joko Widodo kepada DPR.

Kita patut mengapresiasi Enny Nurbaningsih yang tidak pernah kenal menyerah menggali motivasi Jimly. Akan tetapi, Jimly tetap berkukuh tidak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum. Lain lagi dengan jurus tertawa yang dipamerkan Mayjen (Purn) Hendardji Soepandji saat berhadapan dengan anggota pansel, Betti Alisjahbana. Betti menyoroti kekayaan Hendardji.

Saat ditanya soal jumlah rumah dan mobil yang dimiliki, Hendardji tidak langsung menjawab. Dia bahkan tertawa karena tidak ingat jumlahnya. Calon yang tidak memberikan penjelasan atau menghindar untuk menjawab pertanyaan harus diberi catatan merah. Pansel berani mengajukan pertanyaan berkaitan dengan transparansi, integritas, dan akuntabilitas.

Tidak bersedia menjawab bisa ditafsirkan menyembunyikan sesuatu. Siapa pun calon yang berusaha menyembunyikan sesuatu, ia tidak patut menjadi pimpinan KPK. Kita tekankan betapa penting transparansi, integritas, dan akuntabilitas untuk menjadi pertimbangan panitia seleksi. Calon pimpinan KPK yang transparansi, integritas, dan kapabilitasnya diragukan sebaiknya digugurkan sekarang juga, jangan diusulkan ke DPR, sebab proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR lebih mengedepankan pertimbangan politik.

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

5 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA