Orangtua Tuduh WiFi Sekolah Bikin Anak Mereka Sakit

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 27 Aug 2015 17:35 WIB
teknologi
Orangtua Tuduh WiFi Sekolah Bikin Anak Mereka Sakit
Pihak sekolah sempat diminta untuk berhenti menggunakan WiFi. (Mashable)

Metrotvnews.com: Keberadaan Electromagnetic Hypersensitivity Syndrome (EHS) sudah diakui oleh World Health Organization. Hingga sekarang, masih belum diketahui apakah sindrom ini merupakan sebuah penyakit fisik atau masalah psikologis semata. Sebuah sekolah di Massachusetts dituntut pihak orangtua atas tuduhan keberadaan WiFi di sekolah membuat anak mereka sakit.

Seperti yang disebutkan Ubergizmo, sekolah yang bersangkutan memang telah memiliki WiFi sejak lama. Meskipun begitu, pihak orangtua menuduh bahwa penyakit anak mereka menjadi semakin parah di tahun 2013 karena pihak sekolah menggunakan sistem WiFi yang lebih baru dan lebih canggih.

Mereka lalu meminta pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. Pihak mengundang para ahli yang direkomendasikan pihak orangtua untuk memeriksa tingkat radiasi di lingkungan sekolah. Setelah tes dilakukan, terbukti bahwa tingkat radiasi yang ada masih berada dalam tahap aman.

Pihak sekolah menjelaskan bahwa meskipun hasil tes menunjukkan bahwa tingkat radiasi di lingkungan sekolah masih berada dalam tahap wajar, pihak orangtua tetap bersikeras untuk menuntut. Sang anak, seorang laki-laki berumur 12 tahun, memang telah sejak lama mengalami berbagai masalah kesehatan saat dia berada di sekolah seperti sakit kepala, mimisan, rasa mual dan gejala EHS lainnya.

Orangtua anak bahkan sempat meminta pihak sekolah untuk berhenti menggunakan WiFi dan menggunakan kabel Ethernet atau melakukan hal lain untuk mengakomodasi kebutuhan anak mereka. Dalam tuntutan yang mereka ajukan, mereka juga meminta ganti rugi sebesar USD250,000 pada pihak sekolah.

John J.E. Markham, pengacara pihak orangtua berkata, "Kami berusaha untuk bekerja sama dengan pihak sekolah. Kami masih mencari sebuah solusi yang memungkinkan sang anak untuk dapat belajar di sekolah dengan aman."


(ABE)