Dolar Paksa Harga Bahan Baku Batik Naik

Patricia Vicka    •    Kamis, 27 Aug 2015 20:48 WIB
rupiah melemah
Dolar Paksa Harga Bahan Baku Batik Naik
Pengrajin Batik sedang menggambar motif batik dengan canting. Foto: MTVN/Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membuat harga baku kain batik naik. Namun, harga batik di sentra batik Jalan Rotowijayan, Yogyakarta, belum mengalami kenaikan.

Salah seorang penjual batik, Kus, mengatakan tokonya belum berencana menaikkan harga. "Harga batik di sini masih sama dengan beberapa pekan lalu. Belum ada rencana kenaikan harga," ujar wanita yang bekerja di Toko Batik Luwes-luwes ini, kepada Metrotvnews.com, di Yogyakarta, Kamis (27/9/2015).

Toko tempat ia bekerja menjual berbagai produk yang terbuat dari batik seperti kain batik, kemeja, daster, kaos, dompet, dan pernak-pernik dari batik.

Harga satu potong kemeja batik dipatok Rp100 ribu hingga jutaan rupiah. "Harga jual batik cap bergantung dari jenis kainnya. Paling murah kain katun. Paling mahal kain sutra," kata Kus.

Kenaikan harga baju batik juga tidak terjadi di Toko Kasatriyan. Sinta, penjaga toko, mengatakan harga batik masih stabil. "Kami malah mendiskonkan beberapa jenis batik seperti kaos dan daster batik," katanya.

Di sisi lain, Heri, pengrajin batik Luwes-luwes, mengatakan harga kain batik mentah sudah naik. "Naik sudah sekitar sebulan karena pengaruh menguatnya dolar. Tapi belum signifikan. Baru satu hingga tiga persen," kata Heri.

Sebelum dolar naik, harga bahan baku kain batik dibeli Rp12.000 ribu per yar (90 sentimeter). Kini harga bahan baku kain batik Rp12.200-Rp12.500 per yar. Selain itu harga malam yang dipakai untuk menulis batik juga mengalami kenaikan Rp500 per kilogram.

"Karena kenaikan itu, kami juga menaikkan harga kain batik dari sebelumnya Rp64 ribu per potong menjadi Rp65 ribu per potong. Itu harga kain batik cap dan tulis dari katun. Kalau yang sutra atau tulis beda lagi," katanya.

Dia belum memikirkan strategi apa untuk menghadapi melemahnya nilai tukar rupiah. "Kami belum memikirkan strategi. Bisa jadi harga naik. Tapi, sulit sekali karena banyak pesaing di sini," ujarnya.


(UWA)