Sugiyanto Tawarkan Jual Ginjal demi Tebus Ijazah Anak

- 26 Juni 2013 17:40 wib
ANTARA/Reno Esnir
ANTARA/Reno Esnir

Metrotvnews.com, Jakarta: "Kepada Saudara yg butuh ginjal. Kami siap jual. Tubuh kami siap dibelah demi u/ menebus ijazah".

Tulisan itu tertera di selembar kertas putih berukuran A3 yang dibawa berkeliling Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, oleh Sugiyanto, 45, dan putrinya, Rabu (26/6).

Aksi itu membuat beberapa pelintas berhenti sejenak. Pelintas yang umumnya pekerja menunjuk pemandangan yang tak biasa itu. Sugiyanto yang mengenakan kemeja dan celana jins dengan menyandang gitar beserta anaknya yang mengenakan kerudung, kemeja kotak-kotak merah, dan celana jins. Mereka mendatangi pengendara mobil dan motor yang berhenti di lampu merah.

Bapak dan anak itu juga masuk ke dalam bus untuk menawarkan ginjal. "Saya jual ginjal untuk menebus ijazah anak. Penghasilan saya sebagai penjahit tidak cukup," tutur Sugiyanto.

Sugiyanto mengaku berpenghasilan Rp2,5 juta per bulan. Penghasilan itu tidak cukup untuk menebus ijazah SMP dan SMA Ayu dengan total Rp17 juta.

Warga Tegalalur, Jakarta Barat yang memiliki lima anak itu mengaku cukup terbantu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari karena anak sulungnya, Tisna, 20, telah bekerja.

Kisah ini bermula di sebuah pondok pesantren di Parung, Bogor, Jawa Barat. Di sekolah itulah anaknya mengenyam pendidikan SMP dan SMA dengan gratis.

Namun, sejak pemilik pondok pesantren meninggal pada 2010, terjadi perubahan. Sang istri pemilik pesantren mengambil alih tampuk pimpinan. "Sejak diambil alih istrinya, semua harus bayar. Bukan cuma anak saya saja yang tidak bisa tebus ijazah, santri lainnya juga," ucapnya.

Ayu, imbuh Sugiyanto, sempat melanjutkan kuliah ke Kampus STAI yang masih satu yayasan dengan Pesanteren Al Ashryyah Nurul Iman. Tetapi, Ayu kabur dari kampus akibat pemukukan terhadap para santri dari orang-orang yang ditengarai dekat dengan pemilik ponpes.

Sejak tiga tahun lalu, Sugiyanto terus meminta ijazah putri keduanya itu dari pihak sekolah. Dia ingin sang putri melanjutkan kuliah ke kampus lain. Namun, masih jalan buntu yang menghadangnya.

"Saya bawa surat keterangan miskin juga tetap enggak diterima. Harus tetap bayar Rp17 juta. Padahal di awal tidak ada perjanjian seperti itu. Makanya saya nekat jual ginjal," tutur pria yang telah menjadi orangtua tunggal sejak istrinya meninggal 12 tahun lalu.

Sugiyanto juga mengaku telah mencoba mencari bantuan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Komnas HAM. Namun, Sugiyanto belum juga mendapatkan solusi. (San Yasdi Pandia)

()

MESKI sudah tercapai kata islah atau damai, namun kubu Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma…