Kenaikan Cukai Rokok Bisa Pangkas Lapangan Pekerjaan

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 01 Sep 2015 12:55 WIB
rokoktembakau
Kenaikan Cukai Rokok Bisa Pangkas Lapangan Pekerjaan
Buruh rokok sedang bekerja di pabrik. Jika cukai rokok dinaikkan, bisa menimbulkan PHK massal dan kebangkrutan. Ilustrasi FOTO: ANTARA/ANDREAS

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah berencana menaikkan target cukai rokok di dalam RABPN 2016 dari sebelumnya Rp139,1 triliun menjadi Rp148,9 triliun, di tengah kondisi ekonomi yang sedang mengalami perlambatan. Kenaikan cukai ini ditenggarai akan menjerat industri rokok karena mengacu pada base look inflasi dengan hitungan 14 bulan, bukan 12 bulan.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan dengan perhitungan ini, kenaikan cukai rokok mencapai 23 persen, maka ada perbedaan besaran kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar di antara 7-9 persen.

"Beban cukai yang ditanggung oleh industri pastinya akan berimbas kepada penurunan produksi. Oleh karena itu, kenaikan cukai rokok bukan hanya mengancam pekerja di industri. dapat membunuh mata pencahariaan petani tembakau dan cengkeh akibat permintaan yang menurun," ucap Enny, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (1/9/2015).

Menurutnya, dampak dari keputusan untuk menaikkan cukai rokok harus diantisipasi oleh pemerintah. Kesulitan yang dialami oleh industri pasti juga dirasakan oleh para pekerja. "Sebab pada 2014 saja ketika pemerintah tidak menaikkan cukai rokok karena bertepatan dengan pemberlakuan pengenaan pajak rokok daerah 10 persen, sudah tercatat ada 10.000 tenaga kerja industri rokok yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2014," sambung Enny.

Sementara itu, menurut Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Hasan Aoni Aziz, perubahan tren konsumsi sigaret kretek tangan (SKT) menjadi sigaret kretek mesin (SKM) merupakan salah satu faktor. Tak ayal, ‎diperkirakan pada tahun ini pun pekerja di industri rokok akan mengalami pemberhentian sebanyak 10.000 tenaga kerja.‎

"Adanya penurunan untuk konsumsi sigaret kretek tangan dan diikuti kenaikan yang hampir sama besarnya di sigaret kretek mesin. Ini berpengaruh dengan tenaga kerja, karena SKT itu banyak menyerap tenaga kerja,” ujar Hasan‎.

Sekadar diketahui, setiap tahun penerimaan cukai rokok untuk pemerintah terus mengalami kenaikan. Namun secara bersamaan, sejak 2010-2014, sudah ada 999 pabrikan rokok yang gulung tikar, di mana hal ini juga berdampak kepada banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, lebih dari 90 persen pekerja di pabrikan rokok adalah pekerja perempuan dengan pendidikan rata-rata Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang penghidupan keluarganya sangat tergantung pada kelangsungan pekerjaan mereka.

Ratusan ribu orang terancam kehilangan pekerjaan. Pemerintah harus memerhatikan aspek ekonomi-sosial dalam mengambil kebijakan kenaikan cukai rokok kali ini. Seyogyanya pemerintah berpihak pada perlindungan tenaga kerja dan industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk menekan angka pengangguran.


(AHL)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA