Operasi Helikopter Pemadam Kebakaran Hutan Terkendala Izin

Antara    •    Selasa, 01 Sep 2015 17:37 WIB
kebakaran hutan
Operasi Helikopter Pemadam Kebakaran Hutan Terkendala Izin
Helikopter Australia berseri Bell 214 dilengkapi Buket air berkapasitas 3000 ton (ilustrasi). (Antara/Feny Selly)

Metrotvnews.com, Jambi: Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui udara atau mengunakan pesawat helikopter water bombing di Provinsi Jambi belum bisa dilakukan karena terkendala izin penerbangan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Arif Munandar, mengatakan, izin penerbangan helikopter jenis MI 17 itu ternyata sudah habis akhir Agustus kemarin.

"Kita mendapatkan bantuan dua unit helikopter, Super Puma dan MI 17. Tapi, MI 17 izin terbangnya sudah berakhir 31 Agustus kemarin. Jadi belum bisa operasi pemadaman," kata Arif, di Jambi, Selasa (1/9/2015).

Arif mengatakan, sampai hari ini tim pemadaman dari BNPB masih menunggu izin penerbangan MI 17 dari Kementerian Perhubungan. Sedangkan Helikopter Super Puma sudah melakukan uji coba pemadaman dan akan melakukan pemadaman serentak dengan MI 17.

"Izin itu kita harapkan segera keluar dan dua helikopter itu bisa beroperasi, mengingat titik api masih banyak. Hari ini saja ada 68 titik api yang terpantau satelit NOAA 18, belum lagi hasil ground check di lapangan, mungkin lebih dari itu," kata Arif.

Helikopter MI 17, kata Arif, tiba di Bandara STS Jambi, Senin (31/8) sekitar pukul 13.00 WIB. Menyusul kemudian Helikopter Super Puma pada pukul 16.00 WIB.

Bahkan, katanya, Helikopter MI 17 itu langsung melakukan operasi dengan 13 kali menjatuhkan bom air di lokasi kebakaran di kawasan Taman Nasional Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, karena izin terbangnya masih
berlaku.

Namun, operasi kemarin belum berhasil memadamkan api karena helikopter sudah wajib kembali ke Bandara Jambi pukul 17.00 WIB.

Bukan cuma urusan pemerintah

Arif mengatakan BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan agar dinas tersebut mengerahkan sumber daya manusia dan peralatan milik perusahaan yang lahannya juga terbakar.

"Nanti Disbun yang koordinasi dengan perusahaan, mereka juga harus ikut membantu, jangan lihat saja. Kita minta Disbun untuk proaktif mengatasi kebakaran, khususnya di perkebunan perusahaan," kata Arif.

Selain itu, lanjutnya, penanggulangan bencana tidak hanya selesai oleh pemerintah, tapi juga dibantu dunia usaha dan masyarakat. Untuk itu, Arif berharap dukungan penuh dari keduanya.

"Sama-samalah kita memadamkan api ini, kalau pemerintah saja tidak efektif. Kita sangat mengharapkan dukungan dunia usaha khususnya PT Perkebunan, termasuk masyarakat seperti masyarakat peduli api," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, Nurangesti menyebutkan, jarak padang di Kota Jambi, Selasa pukul 07.00 WIB hanya 400 meter, pukul 08.00 WIB menjadi 900 meter dan pukul
09.00 WIB 2.000 meter.

Jarak pandang sempat tembus 2.300 meter pada pukul 10.00 WIB. Namun pada pukul 14.00 WIB, jarak pandang kembali turun menjadi 2.100 meter. "Itu dampak kabut asap, bahkan pesawat dari Jakarta menuju Jambi hari ini tidak bisa mendarat," kata Nurangesti.


(SAN)