Biaya Pendidikan Dongkrak Inflasi Jawa Timur

Amaluddin    •    Selasa, 01 Sep 2015 20:00 WIB
inflasi deflasi
Biaya Pendidikan Dongkrak Inflasi Jawa Timur
Ilustrasi anggaran, Ant

Metrotvnews.com, Surabaya: Kenaikan biaya pendidikan mendongkrak inflasi di Jawa Timur, pada Agustus 2015 menjadi 0,36 persen. Dari tujuh kelompok pengeluaran, lima di antaranya mengalami inflasi dan dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok yang pengeluaran mengalami inflasi tertinggi adalah pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,89 persen. 

"Yang dimaksud biaya pendidikan adalah sekolah swasta dan kebetulan Agustus merupakan awal tahun ajaran baru di mana biasanya orang tua membayar iuran-iuran sekolah," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Sairi Hasbullah, di Surabaya, Selasa (1/9/2015).

Sairi menambahkan tingginya inflasi pada biaya pendidikan bisa diartikan bahwa masyarakat Jatim masih terbebani tiap awal tahun ajaran. Beban tersebut merata mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas. 

"Meskipun peningkatan inflasi tertinggi berada pada kelompok pendidikan namun andil terbesar masih pada kelompok bahan makanan sebesar 0,26 persen. Sedangkan pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,16 persen," imbuh Sairi. 

Sairi menjelaskan komoditas yang menyebabkan inflasi yaitu beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging ayam ras. Harga beras mengalami kenaikan karena prediksi musim kemarau yang berkepanjangan membuat petani tidak banyak menjual hasil panen dan menyimpan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

"Kenaikan harga pakan ternak mengakibatkan kenaikan harga komoditi telur dan daging ayam ras. Sedangkan komoditi cabai rawit mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan di pasaran karena panen yang kurang berhasil dan tingginya permintaan karena musim hajatan. Akhirnya, kenaikan harga bahan makanan memicu kenaikan harga komoditi makanan, diantaranya nasi dengan lauk, soto dan sate," katanya.

Sementara itu komoditi yang menghambat inflasi di Bulan Juli antara lain tarif angkutan udara, bawang merah, angkutan antar kota, tarif KA, kendaraan rental/carter, angkutan dalam kota, tarif kendaraan travel, emas perhiasan, tomat sayur, gipsum. 

"Tarif angkutan udara turun karena pascalebaran. Sedangkan penurunan emas perhiasan lebih disebabkan karena pengaruh kenaikan nilai tukar Dolar AS. Saat nilai tukar Dolar AS meroket, masyarakat memburu dolar sehingga permintaan emas turun," pungkasnya.


(RRN)