Tiongkok Kembali 'Jebloskan' Dow Jones Mendekati 3%

Ade Hapsari Lestarini    •    Rabu, 02 Sep 2015 07:56 WIB
wall street
Tiongkok Kembali 'Jebloskan' Dow Jones Mendekati 3%
Ilustrasi aktivitas di bursa Wall Street. Reuters/Lucas Jackson

Metrotvnews.com, New York: Gejolak di bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali terlihat melemah setelah sebelumnya sempat mereguk keuntungan. Kekhawatiran baru tentang ekonomi Tiongkok mendorong indeks utama turun hampir tiga persen dan mengintensifkan kekhawatiran aksi jual jangka panjang.

Indeks S & P 500 saat ini terpantau 10 persen lebih rendah dibandingkan rekor Mei yang sempat mencapai level tertinggi, dengan prospek perlambatan pertumbuhan global dan kenaikan suku bunga AS yang akan datang, membatasi Wall Street berlari kencang.

Perdagangan Selasa menjadi penurunan terburuk bagi indeks S & P sejak 24 Agustus, yakni merosot sebesar 3,94 persen setelah tiga hari merugi. Demikian seperti dilansir dari Reuters, Rabu (2/9/2015).

Sektor manufaktur Tiongkok menyusut pada laju tercepat dalam tiga tahun di Agustus. Data lain menunjukkan laju pertumbuhan di sektor manufaktur AS melambat bulan lalu ke level terlemah selama lebih dari dua tahun.

Menambah kegelisahan pasar, Managing Director IMF Christine Lagarde mengatakan pertumbuhan ekonomi global sekarang lebih lemah daripada yang telah diharapkan beberapa bulan lalu.

Selain itu, pelemahan di bursa AS disokong penurunan harga minyak lebih dari tujuh persen, mengakhiri tiga hari keuntungan dan juga mengurangi harapan beberapa investor bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada bulan ini.

Indeks energi S & P turun 3,7 persen, indeks keuangan turun 3,5 persen. Kemudian indeks Dow Jones Industrial Average turun 2,84 persen menjadi 16.058,35, S & P 500 ambles 2,96 persen ke 1.913,85 poin, serta Nasdaq Composite melemah 2,94 persen ke 4.636,11.

Volume lebih ringan dalam beberapa hari terakhir mewarnai bursa AS. Sekitar 8,9 miliar lembar saham diperdagangkan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata dalam lima sesi terakhir sebesar 9,4 miliar lembar saham, demikian menurut data BATS Global Markets.


(AHL)