Cerita dari Cirebon

Dimas Prasetyaning    •    Rabu, 02 Sep 2015 15:44 WIB
galeriindonesiakaya
Cerita dari Cirebon
Sejumlah pekerja menyelesaikan proses pembuatan kerajinan dari kerang laut di Cirebon barat, Jawa Barat -- ANT/Dedhez Anggara

Metrotvnews.com, Cirebon: Selama ini Cirebon banyak dikenal sebagai penghasil batik terbesar di pesisir Jawa. Namun, ternyata salah satu kabupaten di Tatar Parahayangan ini memiliki potensi pariwisata yang besar.

Di bawah kepemimpinan Bupati Sunjaya Purwadi, Cirebon berhasil mengembangakn potensi budayanya. Sunjaya mengusung tiga konsep pengembangan desa, yaitu Kampung Produktif, Kampung Seni Budaya, dan Kampung Global Village.

"Kabupaten Cirebon memiliki 50 seni budaya yang keseluruhannya sudah punah atau hampir punah, tapi kita coba pertahankan. Oleh karena itu, saya menggunakan tiga konsep tersebut untuk mempertahankan budaya," terang Sanjaya.

Wujud nyata yang telah dilakukan Sanjaya salah satunya yaitu digagasnya Kampung Batik Trusmi dan Kampung Wisata Bahari yang terletak di Gebang, Cirebon. Hal tersebut membuktikan bahwa semua daerah di Kabupaten Cirebon memiliki potensi seni, budaya, maupun kreatifitas untuk memajukan Kabupaten Cirebon.

Tidak mau kalah dengan beberapa kabupaten yang sedang sedang giat-giatnya mengadakan festival, Cirebon pun turut andil bagian dengan pagelaran seni budaya untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Cirebon. Beberapa karya seni seperti tari sintren, tari topeng, tarling, sandiwara, tayuban, wayang kulit dan wayang golek ditampilkan dalam acara tahunan tersebut.

Pengusaha di Cirebon pun turut andil dalam membangkitkan sumber daya manusia. Salah satunya adalah Nur Handiah Jaime Taguba yang berhasil memberdayakan ibu-ibu dan anak muda untuk aktif dan bangkit memajukan ekonomi Kabupaten Cirebon.

Sebagai pengusaha kulit, Nur Handiah mengubah kulit kerang simping atau capiz shell yang bertebaran di pantai Cirebon, Jawa Barat, menjadi berbagai perkakas bernilai dollar AS. Pemilik perusahaan Multi Dimensi Shell Craft ini mampu membawa kulit kerang pantura menembus dunia.

Nur Handiah mengaku sempat jatuh bangun dalam mendirikan perusahaannya. Awal mula mendirikan pabrik kerang Multi Dimensi Shell Craft, ia diterjang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.

Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.

Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Untuk produksinya, Nur banyak memanfaatkan berbagai alat rumah tangga yang ada disekitarnya untuk dijadikan alat percobaan.
   
"Kita menggunakan kulkas untuk mencari tahu kulit kerang ynag digunakan bisa bersinergi dengan bahan lainnya atau tidak. Karena waktu itu tidak ada buku ataupun balai latihan tertentu untuk menggali ilmu. Maka kita learning by doing saja. Justru melalui itu kita jadi tahu detailnya" kata Nur.

Setiap bulannya, perusahaan yang ia pimpin bisa mengirim sekitar dua kontainer kerajinan ke pasar internasional. Ada sekitar 800 orang bekerja di perusahaannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Nur berharap kerajinannya bisa semakin besar dan lebih diterima masyarakat Indonesia. Sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak untuk mengolah kulit kerang.    

"Selama 15 tahun saya jatuh-bangun di usaha ini. Saya harap kerajinan ini bisa diterima masyarakat Indonesia. Sebab saat ini 90 persen peminat kerajinan kerang masih dari luar negeri," jelasnnya.

Simak dialog Yovie Widianto mengenai potensi Cirebon dalam program IDEnesia di Metro TV pada Kamis (3/9/2015) pukul 22.30 WIB. Jangan lupa follow twitternya @indonesiakaya untuk mengikuti kuis dari IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya.


(NIN)