Ini yang Diperlukan untuk Melestarikan Musik Tradisional

Agustinus Shindu Alpito    •    Jumat, 04 Sep 2015 11:06 WIB
balawan
Ini yang Diperlukan untuk Melestarikan Musik Tradisional
Diskusi World Music di Institut Kesenian Jakarta, Kamis, 3 September 2015 (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Membicarakan masalah pelestarian budaya di negeri ini memang bukan hal baru. Meski persoalan-persoalan berikut solusi yang lahir biasanya terdengar klise, tidak ada jalan lain untuk merawat kekayaan kultur itu sendiri.

Dalam sebuah diskusi bertajuk World Music - Musik Tradisi Nusantara: Merawat, Mengembangkan, Mengilhami yang digelar Dewan Kesenian Jakarta, para narasumber yang terdiri atas praktisi dan akademisi bidang musik mengemukakan ragam opininya.

"Kita mengartikan tradisi secara fisik, termasuk sekolah. Kalau kesenian mau awet, harus diubah, harus disesuaikan dengan zaman, mengikuti zaman. Bagaimana mengubah? Sangat banyak caranya. Salah satunya mengubah fungsi. Misal tadinya tari Bedoyo untuk raja, lalu diubah fungsinya ketika saat ini sudah tidak ada raja di Solo, direformasi, dan direkreasi. Setiap seni ada yang bisa diubah dan tidak, artinya ada yang sudah jadi pakem-pakem tertentu yang memang tidak bisa diubah karena sudah identitasnya," kata Rahayu Supanggah, profesor yang pernah mendalami etnomusikologi di Universite de Paris VII.

Menurut Panggah, butuh keterlibatan putra daerah dalam merawat kekayaan seni daerahnya. Sebab, akan lebih berisiko jika orang luar yang tidak memiliki latar belakang budaya yang sama merawat kekayaan budaya dari satu daerah.

"Saya pernah ditawari melestarikan musik tradisi Riau, tetapi saya katakan tidak berani. Saya tidak punya latar belakang tentang Riau. Kalaupun saya mau, setidaknya saya minta waktu untuk memelajarinya tiga tahun. Karena ini berbahaya, yang ada tradisi dan kesenian mereka akan rusak jika orang luar menggarapnya," kata pria yang akrab disapa Panggah itu, di Institut Kesenian Jakarta, Kamis (3/9/2015).

I Wayan Balawan yang juga menjadi narasumber berpendapat bahwa idealnya pelestarian musik tradisional dilakukan putra daerah, sehingga secara kolektif kekayaan budaya akan terus terjaga.

"Merawat tradisi nusantara tugas yang berat. Saya saja belum bisa mengeksplorasi kesenian Bali secara keseluruhan karena terlalu banyak. Untuk ke depannya, bagaimana perjalanan pelestarian ini mengangkat maestro setempat. Justru putra daerah masing-masing harus bertanggung jawab," kata Balawan.

Balawan dan Panggah merupakan contoh putra daerah yang berhasil melestarikan budaya daerahnya.

Balawan, misalnya. Sebagaimana diketahui, dia memadukan unsur musik modern dengan gamelan Bali. Seniman ini berhasil membuktikan bahwa musik tradisional mampu dikemas menarik, sehingga memiliki nilai jual dan daya saing untuk memberi manfaat bagi para musisi tradisional itu sendiri.

Panggah, sebagai maestro gamelan, sudah melanglang buana mengajar dan berkolaborasi dengan berbagai musisi dunia. Pada 1965, Panggah termasuk dalam rombongan kesenian yang dikirim Bung Karno untuk belajar ke Tiongkok, Korea, dan Jepang.

Salah satu kolaborasi Panggah paling ikonik yang pernah dilakoninya adalah tergabung bersama grup kuartet instrumen gesek bernama Kronos asal Amerika Serikat.


(ROS)